Minggu, 07 April 2019

Published April 07, 2019 by with 2 comments

Sesuatu tentang Bapak #2

Pada pagi yang berpendar, aku duduk di teras depan rumah. Mengamati embun-embun sisa hujan semalam. Dinginnya masih terasa, mentari masih enggan menampakkan cahaya.

Tetiba garis waktu terhenti, pada sekadar ingatan tentang kelebat bayang seorang bapak di hadapan. Bayang ketika ia pulang dari perjalanannya dengan membawa sekotak rindu untuk kami. Beliau membawa oleh-oleh sayang yang tertahan selama beberapa purnama. 
Ketidakpulangannya kali ini, membawa sekantong dekap yang kembali menghangat setelah perjalanan panjang. Malam-malam kembali ramai setelah kepulangan bapak. Ia bercerita banyak hal, tentang apa saja yang ia jumpai di perjalanannya mencari nafkah.

"Anak wedok pak e uis gedhe."
Begitu bapak berujar. Beliau memang tak tahu bagaimana anak perempuannya ini tumbuh, setidaknya melihat setiap hari. Bapak pergi mengadu nasib di negeri seberang. Belum ada sepeda motor, masih menggunakan ontel sebagai kendaraan.
Aku masih ingat, betapa ia suka sekali membawa gerobak siomay kesayangannya, seolah di gerobak itu ada harap besar untuk kehidupannya nanti.
Malam kembali lengang. Setelah beberapa hari tinggal, ia akan kembali mengayuh sepeda tua dan kembali mengadu nasib di kota-kota besar.
Setiap detail kenang, selalu membawa mu kembali pada ingatan-ingatan tentangnya. Seseorang yang mencintai kami dengan segenap raga dan jiwanya.

April 2019
san.


2 komentar:

pungkinas mengatakan...

Salam buat bapak❣

pungkinas mengatakan...

Salam buat bapak❣