Kamis, 04 April 2019

Published April 04, 2019 by with 0 comment

Sebenarnya siapa yang bisa dibilang Ikhlas?


Hargai orang lain, kalau mau dihargai.
Berbuat baik, supaya orang lain berbuat baik juga.

Ibarat pepatah, air susu di balas dengan air susu. Air tuba di balas air tuba.

Kadang saya ketawa mendengar pernyataan di atas. Kenapa? Ya, karena mereka mempunyai harapan untuk di perlakukan sama, seperti sebagaimana mereka memperlakukan orang.

Apa ada yang salah? Ini bukan tentang benar dan salah, ini tentang mana yang lebih baik.
Kita selalu di ajarkan dengan pepatah,

Air susu di balas, air tuba.

Artinya, kita berbuat baik pada orang lain, belum tentu orang lain juga akan membalas baik. Kita tahu kan bahwa itu sebenarnya yang baik? Kita hanya perlu berbuat baik, terserah mereka akan membalas baik atau tidak, itu bukan urusan kita. Karena yang menjadi urusan kita, kita hanya butuh baik, sekalipun akan mendapat balasan tak baik, itu bukan urusan kita. Itu urusan dia dengan Tuhannya. Dengan pahala dan dosanya.

Jadi, setiap ada yang bilang, "Kalau mau di hargai, ya hargai dulu orang lain."
Saya tidak sependapat, karena kalimat di atas membutuhkan balasan atas apa yang kita lakukan pada orang lain. Padahal kita tahu, kamu hanya perlu baik dan biarkan Tuhan yang membalas. Perkara dia mau balik membalas baik atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhan.

Kita tahu, ikhlas itu seperti surat al-ikhlas, tidak ada kata ikhlas di dalamnya.

Jadi buat apa menghargai dengan tujuan ingin di hargai? Bukankah keikhlasan tidak membutuhkan balasan?

0 komentar: