Senin, 08 April 2019

Published April 08, 2019 by with 0 comment

Entah

Ketika melihat cahaya keemasannya, entah kenapa ada perasaan lega, sesaat. Meski tak begitu lama, perasaan itu sungguh damai dan menenangkan. Senja seolah menjadi candu sekaligus pereda nyeri di ulu hati. Senja yang tak pernah dekat namun begitu melekat. Dalam rasa dan ingatan.

Rindu kembali luruh, mempertanyakan tentang mengapa dan apa? Namun yang kau temukan selalu saja entah. Rasa ini seperti kalimat retorik, kau bisa menanyakannya tapi ia tak butuh jawaban.

Ketika dada tak lagi bergemuruh, ia hanya mulai luruh dengan pasrah. Tak ada ambisi atau pun harap berlebih atas semuanya. Ia hanya tahu, bahwa ia ada dengan doa dan kepasrahan.

Ada semacam penghalang untuk ia kembali berharap dan meyakinkan diri. Ia tak lagi sepercaya itu. Ketika ada yang memilih meninggalkan, ia menyadari satu hal bahwa ada yang mungkin, tidak akan pernah cukup baginya menetap.

Ia hanya menyadari satu hal, tentang perasaannya yang utuh dan harapannya pada Tuhan. Meski ia akan berusaha untuk kembali percaya, namun ada setitik pasrah yang tak lagi membuatnya sepercaya itu pada makhluk-Nya.

Ia hanya akan kembali berharap pada Tuhan dan semesta. Entah seperti apa akhirnya nanti.

April 2019.
san.

0 komentar: