Jumat, 22 Maret 2019

Published Maret 22, 2019 by with 0 comment

Jalan adalah Rumah


Aku sering membatin; mungkin aku diciptakan oleh Tuhan untuk sarana bagi banyak orang untuk mendapatkan pahala dari memberiku sekoin logam uang, atau selembar dua ribuan. Aku terlahir sebagai sarana manusia lain menuju tempat paling indah di langit, surga misalnya. Tidak mudah memang menerima ini, harus hidup di jalanan dengan debu dan asap kendaraan. Tidak hanya sehari, dua hari, sedari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup di jalanan.

Mereka bilang aku liar. Tidak bisa diatur. Siapa yang mau mengatur ku? Sedari masih bocah aku hidup seorang diri di pinggir jalan. Hidup bebas dengan anak-anak yang mungkin bernasib sama sepertiku. Siapa yang ingin hidup seperti ini? Kamu? Aku? Hidup bukan pilihan kan? Tuhan menciptakan aku seperti ini, mungkin agar kalian menjadi manusia yang punya rasa welas asih. Mengasihani aku yang menodong di jalanan,

"Bagi uangnya dong om, buat makan."

Aku mengucapnya biasa saja. Tanpa malu apalagi ragu. Dengan wajah yang mungkin memelas dan kulit yang hitam karena aku tak pernah mandi. Jika tidak ada uang hari ini, mungkin nanti malam aku masih hidup. Jika masih kelaparan sampai lusa, aku tidak tahu apa aku masih bisa bernafas. Bisa saja aku menemui kematian di pinggir jalan, atau di dekat pasar kumuh yang biasa aku datangi. Siapa yang peduli?

Aku yakin, jalan ini yang dipilihkan Tuhan untukku. Tidak apa, nyatanya aku masih menikmatinya. Mungkin Tuhan menciptakan aku untuk jalan bagi manusia lain mempunyai rasa kemanusiaan atau melalui ku banyak orang bisa memberi sedekah, dengan begitu jalan menuju surga mereka semakin dekat dan mudah. Tuhan merestuinya.

Aku pernah tinggal di sebuah rumah. Dengan anak-anak yang bernasib sama, tidak mempunyai ayah dan ibu. Kami yatim piatu. Tinggal di rumah itu tidak selalu baik. Memang, hidupku lebih tertata, tapi ibu panti tidak selalu baik. Kadang ia suka memukul kami jika kami bandel, padahal kami hanya sedang bermain. Tidak tahan aku hidup dengan ibu panti seperti itu, lalu aku memilih hidup di jalanan seperti sekarang. Kadang tertangkap orang-orang berseragam, biasa disebut Satpol PP. Ah, itu sudah biasa. Nanti, jika ada kesempatan untuk kabur, aku memilih untuk kabur saja.

Jalan adalah rumah ku. Tanpa desain, tanpa tatanan. Dimanapun aku berjalan, itu adalah rumah. Siapa yang mau hidup seperti ini? Aku? Ah, kau bercanda, aku hanya melakoni yang Tuhan gariskan. Jadi jangan kau menatapku dengan tatapan jijik seperti itu. Bukankah kau seharusnya bersyukur, kau tak pernah merasakan betapa susahnya hidup di jalanan. Betapa dinginnya kala hujan datang, sedang aku hanya punya baju dua stel. Mengganti baju butuh berhari-hari, tidak sepertimu yang setiap hari bisa berganti baju dengan gampang.

Bukankah harusnya kau bersyukur? Ada sebutan miskin, kalau tidak ada sebutan itu, mana mungkin kau di panggil kaya. Aih, kita hidup saling mengimbangi bukan? Lalu, buat apa kau menatapku seperti itu. Seolah-olah aku ini sampah yang tak pantas kau sentuh. Aku ini manusia, sama seperti mu. Aku ini manusia, persis seperti mu, menghirup udara yang Tuhan berikan pada semesta. Berbeda nasib saja. Kau harusnya bersyukur, dan sedikit membaginya denganku.

0 komentar: