Rabu, 12 Juni 2019

Published Juni 12, 2019 by with 0 comment

Kita hanya saling bungkam


Remang
Temaram
Menghitam
Dan gelap

Puisi puisi kembali berbincang
Tentang kehidupan
Dan kematian
Tentang kerinduan
Dan kebencian

Puisi puisi kembali bersuara
Tentang riuh
Dan sepi
Tentang kasih
Dan pemisah

Tulisan kembali ditorehkan
Tentang fajar
Dan senja
Tentang kau
Dan aku
Kemudian dia dan lainnya

Kita kembali beradu
Untuk saling bicara
Kemudian bungkam

Kita saling meniadakan kepergian
Dan mendatangkan kediaman
Membiarkan waktu mengusir dirinya sendiri
Saling menunggu jawab
Entah apa
Entah darimana

Kita hanya saling bungkam dan diam

Juni 2019
san
Read More

Kamis, 23 Mei 2019

Published Mei 23, 2019 by with 0 comment

Hanya Tuhan


Ada yang tak sewajarnya ada dalam diri
Maka kau lebih menarik diri

Ada yang tak dapat di pahami perihal diri
Maka kau lebih memilih sepi

Ada yang terlalu rumit untuk di utarakan
Maka kau lebih memilih bungkam

Ada yang tak bisa tersampaikan
Maka kau lebih memilih menguburkan

Dan biarkan hening menjadi kawan
Setidaknya ia tak pernah menjadi lawan

Pada akhirnya ketika takut mu membesar
Tak ada yang tersisa selain Tuhan dan sabar
Seperti tak ada pilihan
Melainkan keharusan
Hanya Tuhan, Tuhan dan Tuhan

Mei 2019, Ramadan Tanpa Bapak
san
Read More

Jumat, 10 Mei 2019

Published Mei 10, 2019 by with 0 comment

Aku Masih Mengejamu


Aku masih mengejamu
Membaca perlahan
Satu demi satu
Larik demi larik
Dan bait demi bait

Aku masih mengejamu
Senyum itu
Genggaman ini
Tawa kita
Dan semua gerak gerik tubuh

Aku masih mengejamu
Pada pagi yang menyiratkan sinar
Pada sore yang menghadirkan senja
Dan pada malam gelap yang dingin

Aku masih mengejamu
Seperti ingin membaca meski sudah terbaca
Ingin mengartikan meski sudah memberi arti

Dan aku akan terus mengejamu
Hingga akhir cerita
Sampai akhir penantian

Bulan mu, Mei 2019
san

Read More

Selasa, 16 April 2019

Published April 16, 2019 by with 0 comment

Remuk Redam

pexels.com

Kau torehkan pecahan-pecahan kaca kembali
Menjadi serpihan-serpihan menelisik

Melukai,
Sekali lagi, satu kali lagi dan lagi

Remuk redam
Kau benamkan ke dalam palung terdalam
Kembali aku letakkan ia pada malam

Biar ia terbelenggu
Biar ia terkurung

Pergilah bersama temaram
Dalam gelap dan remang

Sungguh, aku hanya ingin meniadakan
Segalanya
Biar ia terenggut sepi
Biar ia tertelan sunyi

Sungguh, raga ini lelah
Bersama sisa-sisa asa yang tlah tumpah
Ia tak lagi utuh
Ia telah luruh
Seutuhnya dan seluruhnya
April 2019.
san.



Read More

Senin, 08 April 2019

Published April 08, 2019 by with 2 comments

Entah

Ketika melihat cahaya keemasannya, entah kenapa ada perasaan lega, sesaat. Meski tak begitu lama, perasaan itu sungguh damai dan menenangkan. Senja seolah menjadi candu sekaligus pereda nyeri di ulu hati. Senja yang tak pernah dekat namun begitu melekat. Dalam rasa dan ingatan.

Rindu kembali luruh, mempertanyakan tentang mengapa dan apa? Namun yang kau temukan selalu saja entah. Rasa ini seperti kalimat retorik, kau bisa menanyakannya tapi ia tak butuh jawaban.

Ketika dada tak lagi bergemuruh, ia hanya mulai luruh dengan pasrah. Tak ada ambisi atau pun harap berlebih atas semuanya. Ia hanya tahu, bahwa ia ada dengan doa dan kepasrahan.

Ada semacam penghalang untuk ia kembali berharap dan meyakinkan diri. Ia tak lagi sepercaya itu. Ketika ada yang memilih meninggalkan, ia menyadari satu hal bahwa ada yang mungkin, tidak akan pernah cukup baginya menetap.

Ia hanya menyadari satu hal, tentang perasaannya yang utuh dan harapannya pada Tuhan. Meski ia akan berusaha untuk kembali percaya, namun ada setitik pasrah yang tak lagi membuatnya sepercaya itu pada makhluk-Nya.

Ia hanya akan kembali berharap pada Tuhan dan semesta. Entah seperti apa akhirnya nanti.

April 2019.
san.
Read More

Minggu, 07 April 2019

Published April 07, 2019 by with 2 comments

Sesuatu tentang Bapak #2

Pada pagi yang berpendar, aku duduk di teras depan rumah. Mengamati embun-embun sisa hujan semalam. Dinginnya masih terasa, mentari masih enggan menampakkan cahaya.

Tetiba garis waktu terhenti, pada sekadar ingatan tentang kelebat bayang seorang bapak di hadapan. Bayang ketika ia pulang dari perjalanannya dengan membawa sekotak rindu untuk kami. Beliau membawa oleh-oleh sayang yang tertahan selama beberapa purnama. 
Ketidakpulangannya kali ini, membawa sekantong dekap yang kembali menghangat setelah perjalanan panjang. Malam-malam kembali ramai setelah kepulangan bapak. Ia bercerita banyak hal, tentang apa saja yang ia jumpai di perjalanannya mencari nafkah.

"Anak wedok pak e uis gedhe."
Begitu bapak berujar. Beliau memang tak tahu bagaimana anak perempuannya ini tumbuh, setidaknya melihat setiap hari. Bapak pergi mengadu nasib di negeri seberang. Belum ada sepeda motor, masih menggunakan ontel sebagai kendaraan.
Aku masih ingat, betapa ia suka sekali membawa gerobak siomay kesayangannya, seolah di gerobak itu ada harap besar untuk kehidupannya nanti.
Malam kembali lengang. Setelah beberapa hari tinggal, ia akan kembali mengayuh sepeda tua dan kembali mengadu nasib di kota-kota besar.
Setiap detail kenang, selalu membawa mu kembali pada ingatan-ingatan tentangnya. Seseorang yang mencintai kami dengan segenap raga dan jiwanya.

April 2019
san.


Read More
Published April 07, 2019 by with 0 comment

Kepada Tuhan dan Semesta


Bibir ini sumbing
Ingin berkata namun terbekam hening
Mata ini buta
Ingin meniadakan namun kau sungguh ada
Telinga ini tuli
Ingin mengabaikan namun suara itu selalu berbisik

Bibir ini kelu untuk kembali beradu
Jiwa ini pasrah untuk kembali menyerah
Raga ini luruh untuk tak lagi bergemuruh

Kepada tuhan dan semesta
Kami kembalikan seutuhnya
 Tentang apa yg harus kami tempa dan terima

07 April 2019
san.
Read More

Kamis, 04 April 2019

Published April 04, 2019 by with 0 comment

Sebenarnya siapa yang bisa dibilang Ikhlas?


Hargai orang lain, kalau mau dihargai.
Berbuat baik, supaya orang lain berbuat baik juga.

Ibarat pepatah, air susu di balas dengan air susu. Air tuba di balas air tuba.

Kadang saya ketawa mendengar pernyataan di atas. Kenapa? Ya, karena mereka mempunyai harapan untuk di perlakukan sama, seperti sebagaimana mereka memperlakukan orang.

Apa ada yang salah? Ini bukan tentang benar dan salah, ini tentang mana yang lebih baik.
Kita selalu di ajarkan dengan pepatah,

Air susu di balas, air tuba.

Artinya, kita berbuat baik pada orang lain, belum tentu orang lain juga akan membalas baik. Kita tahu kan bahwa itu sebenarnya yang baik? Kita hanya perlu berbuat baik, terserah mereka akan membalas baik atau tidak, itu bukan urusan kita. Karena yang menjadi urusan kita, kita hanya butuh baik, sekalipun akan mendapat balasan tak baik, itu bukan urusan kita. Itu urusan dia dengan Tuhannya. Dengan pahala dan dosanya.

Jadi, setiap ada yang bilang, "Kalau mau di hargai, ya hargai dulu orang lain."
Saya tidak sependapat, karena kalimat di atas membutuhkan balasan atas apa yang kita lakukan pada orang lain. Padahal kita tahu, kamu hanya perlu baik dan biarkan Tuhan yang membalas. Perkara dia mau balik membalas baik atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhan.

Kita tahu, ikhlas itu seperti surat al-ikhlas, tidak ada kata ikhlas di dalamnya.

Jadi buat apa menghargai dengan tujuan ingin di hargai? Bukankah keikhlasan tidak membutuhkan balasan?
Read More
Published April 04, 2019 by with 0 comment

Katanya,


Perihal bapak yang tak lagi ada
Ada adalah ketiadaan yang ada
Ketiadaan adalah ada yang tiada

Ia adalah mentari namun juga hujan
Ia adalah kebahagiaan juga pesakitan
Ia adalah senyum dan tangis
Ia adalah ingatan dan sesal

Tubuh tegapnya masih terasa
Tatkala ia memeluk dan mencium
Senyumnya kian tumbang
Seiring hidup yang menghimpit

Lakunya kian pelan
Tatkala rindu terus melaju
Tatapannya kian meredup
Tatkala ada yang menghilang

Gadis kecilnya tak lagi ada
Katanya, dia bukan lagi putri kecilku
Katanya, dia bukan lagi si penurut
Katanya, dia mulai mengenal kecewa
Katanya, dia mulai mengenal pedih
Katanya, luka-luka yang dibuat kehidupan

Katanya,
Dia kehilangan bapak

Maret 2019, Klaten



Read More
Published April 04, 2019 by with 0 comment

Titip Rindu untuk Bapak


Aku bertanya pada Bapak tentang kesepian yang ia simpan

"Setelah kelahiran mu, tidak ada lagi sepi dalam hidup bapak." tuturnya perlahan.

Binar matanya sungguh elok
Tawa dan senyumnya begitu tulus
Peluk dan dekap hangatnya selalu menenangkan
Begitu raga itu berirama

Cinta yang teramat sangat, membuat kami terikat
Kasihnya yang begitu mendalam, membuat kami merindu
Nyanyian tatkala pagi dan siang, masih tergiang
Jelas dan nyata

Aku suka sekali di gendong pundak
Dan
Adik lelaki suka sekali bersepeda dengan bapak

"Duduk di depan ya, bapak di belakang." tuturnya sembari mengayuh sepeda.

Kami yang selalu merindu
Kami yang selalu mengingat
Dan
Kami yang tak akan pernah lupa merapal doa-doa, semoga bapak bahagia dan sehat disana
Beribu maaf belum sempat terucap, semoga kelak kau berkenan memberinya

Dari kami,
Keluarga

Semoga bisa kembali berkumpul, kelak dan selamanya.
Amiin

April 2019, enam puluh dua hari kepergian bapak.
san.
Read More

Selasa, 02 April 2019

Published April 02, 2019 by with 0 comment

Ingatan Usang


Di bukanya lembar kertas
Tulisan usang masih terpampang
Kenang demi kenang memutar bayang

"Ini tulisan siapa kak?"
"Tulisan Bapak." jawabnya datar

Di bukanya perlahan
Helai demi helai halaman
Banyak kisah dan cerita
Seorang gadis berusia empat belas
Kembali mengenang, ingatan demi ingatan

Bahwa kini,
Dia hanya memiliki adik

"Ayah dan Ibu sudah menunggu di surga." lanjutnya tergugu

Ini terdengar pilu,
Namun memang begitu adanya

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan
Raga dan jiwa seorang Ayah dan Ibu

Buliran bening kembali mengalir
Dari bola mata mudanya
Genggamnya semakin mencengkram, erat

Ia hanya harus kuat,
Begitu ia berbisik

Ia hanya harus percaya
Tuhan mempunyai rencana

Hatinya kembali mendekap Tuhan
Dengan sujud dan tangisan

Ia kembali memaksa
Tubuh dan jiwa untuk tak lagi rapuh

Maret 2019
san.
Read More

Senin, 01 April 2019

Published April 01, 2019 by with 0 comment

Semua akan baik-baik saja.


"Semua akan baik-baik saja."

Beberapa waktu lalu, langit kembali bersih. Biru, tak ada awan yang menghiasinya. Beberapa waktu lalu. Tidak ada yang pernah tahu berapa lama langit akan bertahan memberi terang. Lalu, sesaat setelahnya, warna biru yang bersih tergantikan oleh warna gelap, hitam legam. Seolah menandakan langit sedang menahan sesuatu yang teramat berat di atas sana. Di barengi dengan petir, akhirnya tetesan air menghujam ke bumi. Deras, makin deras.

Kita, manusia mendongak ke atas.

"Sedang apa gerangan di atas sana? Warnanya begitu mengerikan. Gemuruhnya makin mencekam."

Ada seorang ibu-ibu sedang menunggu bus di sisi jalan. Menggendong seorang anak perempuan, yang terlihat ketakutan kerana petir dan gemuruh langit.

"Tak apa nak. Itu hanya hujan."
"Tapi suaranya keras sekali ibu."
"Itu namanya guntur, teman dari hujan. Biasanya mereka berjalan beriringan nak. Sedikit menakutkan, tapi dia tidak akan menyakiti mu."
"Benarkah ibu?"
"Iya, semua akan baik-baik saja."

Ibu paruh baya itu mendekap putri kecilnya makin erat. Hujan makin deras. Tidak ada bus atau pun kendaraan lewat. Mereka masih berteduh di pinggir jalan, dengan payung seadanya.

"Ah, sial." 

Terlihat seorang anak muda memakai baju hitam putih basah kuyup, berdua. Sepasang muda mudi yang sepertinya sedang berjuang untuk melanjutkan hidup, pelamar kerja.

"Kenapa musti hujan? Wawancara hari ini bakal batal! Ini, kesempatan emas. Hujan sialan!" lelaki muda mengumpat.

"Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja. Jika tidak hari ini, mungkin esok terganti." lanjut seorang perempuan muda.

Kembali, seolah dengan kalimat semua akan baik-baik saja, akan memperbaiki keadaan seperti apapun. Jika kau tahu, itu mungkin memang hanya kalimat penenang, sesaat. Namun jelas, efek dari kalimat itu benar bisa kita rasakan.

Semua akan baik-baik saja. Akan kembali normal seperti semula.

Setidaknya, itu menenangkan untuk beberapa waktu. Meski entah, kenyataan apa yang akan kau hadapi setelahnya. Semuanya memang akan baik-baik saja, keadaan serumit apapun selalu memiliki tujuan. Sekalipun kau tak pernah tahu apa tujuan dari semua hal itu.

Tuhan selalu memiliki tujuan kan?

Read More

Jumat, 29 Maret 2019

Published Maret 29, 2019 by with 0 comment

Aku Hanya Ada


Aku yang semestinya tiada

Aku hanya ada
Namun hanya fana
Aku hanya ada
Namun hanya terasa

Karena aku hanya ada
Dengan sekadar rasa dan keyakinan

Aku yang semestinya tiada
Dari semesta mu
Dan harap semu

Karena
Aku hanya ada

Maret 2019
san.
Read More

Rabu, 27 Maret 2019

Published Maret 27, 2019 by with 0 comment

Waktu


Waktu
Memaksamu menerima
Pada keadaan yang semestinya
Memporak porandakan hatimu
Dan membuatmu tergugu

Waktu
Semakin kau meronta
Semakin ia mencengkram

Semakin kau mencacat
Semakin kau terikat, erat

Semakin kau menerima
Semakin terasa lega

Dan
Semakin kau rela
Semakin kau bahagia

27 Maret 2019
san.


Read More

Senin, 25 Maret 2019

Published Maret 25, 2019 by with 2 comments

Kembali Pulang

Pict SS: Ada Wajahmu di Kaki Langit Fiersa Besari

Senja yang pernah hilang
Kini ia kembali

Kembali duduk bersebelahan
Menguntai rindu yang tertahan

Senja ku kembali
Dengan sinar lebih terang
Dengan rasa lebih lapang

Senja yang aku rindukan
Sudah kembali
Dengan bias sinar jingga,
Begitu elok nan indah

Menatapnya, menikmatinya, sekarang
Ia telah kembali pulang
Setelah tualang panjang

Senja yang aku semoga kan
Senja yang aku rapal dalam doa-doa
Semoga tak kembali hilang
Namun kembali pulang

Kembali pulang

25 Maret 2019
san.

Read More

Jumat, 22 Maret 2019

Published Maret 22, 2019 by with 0 comment

Jalan adalah Rumah


Aku sering membatin; mungkin aku diciptakan oleh Tuhan untuk sarana bagi banyak orang untuk mendapatkan pahala dari memberiku sekoin logam uang, atau selembar dua ribuan. Aku terlahir sebagai sarana manusia lain menuju tempat paling indah di langit, surga misalnya. Tidak mudah memang menerima ini, harus hidup di jalanan dengan debu dan asap kendaraan. Tidak hanya sehari, dua hari, sedari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup di jalanan.

Mereka bilang aku liar. Tidak bisa diatur. Siapa yang mau mengatur ku? Sedari masih bocah aku hidup seorang diri di pinggir jalan. Hidup bebas dengan anak-anak yang mungkin bernasib sama sepertiku. Siapa yang ingin hidup seperti ini? Kamu? Aku? Hidup bukan pilihan kan? Tuhan menciptakan aku seperti ini, mungkin agar kalian menjadi manusia yang punya rasa welas asih. Mengasihani aku yang menodong di jalanan,

"Bagi uangnya dong om, buat makan."

Aku mengucapnya biasa saja. Tanpa malu apalagi ragu. Dengan wajah yang mungkin memelas dan kulit yang hitam karena aku tak pernah mandi. Jika tidak ada uang hari ini, mungkin nanti malam aku masih hidup. Jika masih kelaparan sampai lusa, aku tidak tahu apa aku masih bisa bernafas. Bisa saja aku menemui kematian di pinggir jalan, atau di dekat pasar kumuh yang biasa aku datangi. Siapa yang peduli?

Aku yakin, jalan ini yang dipilihkan Tuhan untukku. Tidak apa, nyatanya aku masih menikmatinya. Mungkin Tuhan menciptakan aku untuk jalan bagi manusia lain mempunyai rasa kemanusiaan atau melalui ku banyak orang bisa memberi sedekah, dengan begitu jalan menuju surga mereka semakin dekat dan mudah. Tuhan merestuinya.

Aku pernah tinggal di sebuah rumah. Dengan anak-anak yang bernasib sama, tidak mempunyai ayah dan ibu. Kami yatim piatu. Tinggal di rumah itu tidak selalu baik. Memang, hidupku lebih tertata, tapi ibu panti tidak selalu baik. Kadang ia suka memukul kami jika kami bandel, padahal kami hanya sedang bermain. Tidak tahan aku hidup dengan ibu panti seperti itu, lalu aku memilih hidup di jalanan seperti sekarang. Kadang tertangkap orang-orang berseragam, biasa disebut Satpol PP. Ah, itu sudah biasa. Nanti, jika ada kesempatan untuk kabur, aku memilih untuk kabur saja.

Jalan adalah rumah ku. Tanpa desain, tanpa tatanan. Dimanapun aku berjalan, itu adalah rumah. Siapa yang mau hidup seperti ini? Aku? Ah, kau bercanda, aku hanya melakoni yang Tuhan gariskan. Jadi jangan kau menatapku dengan tatapan jijik seperti itu. Bukankah kau seharusnya bersyukur, kau tak pernah merasakan betapa susahnya hidup di jalanan. Betapa dinginnya kala hujan datang, sedang aku hanya punya baju dua stel. Mengganti baju butuh berhari-hari, tidak sepertimu yang setiap hari bisa berganti baju dengan gampang.

Bukankah harusnya kau bersyukur? Ada sebutan miskin, kalau tidak ada sebutan itu, mana mungkin kau di panggil kaya. Aih, kita hidup saling mengimbangi bukan? Lalu, buat apa kau menatapku seperti itu. Seolah-olah aku ini sampah yang tak pantas kau sentuh. Aku ini manusia, sama seperti mu. Aku ini manusia, persis seperti mu, menghirup udara yang Tuhan berikan pada semesta. Berbeda nasib saja. Kau harusnya bersyukur, dan sedikit membaginya denganku.
Read More

Senin, 18 Maret 2019

Published Maret 18, 2019 by with 0 comment

Aku Masih Disini


Saat aku begitu meyakinimu
Kau begitu meragukan ku

Saat aku mempercayai ini nyata
Kau anggap ini fana

Saat aku berusaha bertahan
Kau mengusirku perlahan

Rasanya masih terasa
Getirnya begitu kentara
Sakitnya masih tertahan

Apa aku kembali percaya?
Atau membiarkanmu tiada?
Apakah aku harus menyangkal?
Sedang aku masih mencinta

Aku masih disini
Dengan rasa yang sama
Meski tak lagi seirama

Aku masih disini
Selalu, disini.

18 Maret 2019
san.


Read More

Rabu, 13 Maret 2019

Published Maret 13, 2019 by with 2 comments

Kau kah Memar Itu ?


Kau kah memar itu? Yang meninggalkan bekas ke unguan di sekujur tubuh. Terasa begitu nyeri hingga ke ulu hati. Atau kah, kau luka yang sengaja ia tutupi agar orang lain tidak melihatnya? Karena kau tahu, tak perlu lah orang lain tahu tentang luka-luka yang kau timpa.

Kau kah memar itu? Yang membiru di sekujur tubuh setelah perjalanan panjang mu bersamanya. Luka perih yang kau rasa sampai ubun-ubun tengkorak mu. Atau kah, kau memang sengaja menjadikan luka-luka itu rahasia mu saja. Karena cukup, tidak perlu ada orang lain tahu tentang itu.

Tentang luka yang kau emban sendiri. Tentang sakit yang kau rasa sendiri. Kau bisa saja mengatakannya, namun kau lebih memilih bungkam atas luka-luka itu. Kau tahu, tidak mudah untuk membicarakan ini, apalagi hanya dengan mereka yang ingin tahu saja.

Kau kah memar itu? Yang kau sadar akan ada di sekujur tubuhmu jika kau masih bersamanya. Kau bisa saja berhenti dan memilih pergi, namun nyatanya kau memilih untuk tetap tinggal dan menikmati memar di sekujur tubuh mu. Bagi mu ia adalah luka yang suka sekali kau rasa. Terdengar tidak waras memang, tapi begitulah sebuah rasa berlaku. Membuat sedikit bodoh dan dungu.
Read More

Selasa, 12 Maret 2019

Published Maret 12, 2019 by with 0 comment

Aku terlalu ingin


Aku terlalu mencintaimu sunyi
Hingga gaduh rasanya begitu asing

Aku terlalu mencintaimu sepi
Hingga ramai seperti melelahkan

Aku terlalu mencintaimu sendiri
Hingga berdua sudah tak aku harap lagi

Aku terlalu menikmatimu sendu
Hingga bisik seperti mengusik

Aku terlalu ingin menyepi
Menepi dari bisingnya dunia

Aku terlalu ingin
Sendiri

Maret 2019
san
Read More
Published Maret 12, 2019 by with 0 comment

Kau


Kau adalah orang yang mengambil setengah kewarasanku
Membiarkan ku berlari, seorang diri
Membiarkan ku berteduh pada hujan
Membiarkan ku menyerah pada kehidupan

Kau adalah larik-larik abjad yang telah ku rangkai
Menjadikan pena atas segala hal yang ada
Dalam dirimu
Dan lakumu

Kau adalah senja
Keindahan di kala pergantian waktu
Keindahan yang di nanti di akhir waktu

Kau adalah pendar cahaya di kala pagi
Membangunkan dengan sinar dari gelapnya malam
Membangunkan dari mimpi-mimpi panjang

Kau adalah realita
Juga fana ku

Kau

Maret 2019
san



Read More

Senin, 11 Maret 2019

Published Maret 11, 2019 by with 0 comment

Aku


Aku mendengar mu
Melalui angin yang berdesir
Mengitari ku perlahan
Tak terlihat namun begitu terasa, ada

Aku melihat mu
Melalui lukisan indah di atas langit
Biru, putih, oranye dan kadang hitam, legam

Aku membaca mu
Pada larik-larik sepi
Pada bait-bait sunyi

Aku merasakan mu
Pada tiap debar di tubuh
Pada tiap detak waktu berjalan

Aku menyayangi mu
Melalui waktu yang berkuasa
Di luar kemampuanku, untuk menghentikannya

11 Maret 2019
san.
Read More

Rabu, 06 Maret 2019

Published Maret 06, 2019 by with 0 comment

Setelah Kepergian Bapak

Ada pedih yang tak akan hilang
Ada sesal yang tak akan tuntas
Ada maaf yang tak akan sampai
Ada kenang yang tak akan pergi
Ada getir yang akan tetap terasa

Kala ia menjadi bocah
Berlari kecil menuju gendongnya
Kala ia merajuk dan duduk di pangkuannya
Dengan rengekan dan manja ia berada di pundak lelaki paruh baya

Lelaki yang di tangannya ada harap dan tawa
Lelaki yang di tangannya ada sabar tiada habisnya
Lelaki yang di tangannya ada sayang yang tiada terkira
Lelaki yang di tangannya bahagia akan terus ia beri

Bapak, begitu ia memanggilnya
Bapak, begitu ia mengejanya
Bapak yang sudah benar-benar tiada

Iya benar ia sudah tiada

Setelah kepergian bapak
Rasanya tak ada lagi harap
Rasanya tak ada lagi tawa

Setelah kepergian bapak
Rindu semakin bergumul
Tak ada lagi bapak
Tak ada lagi bapak

Maret 2019


Read More
Published Maret 06, 2019 by with 0 comment

Tuhan Masih Percaya


Ada yang menekan perasaannya erat
Untuk sebuah ingin
Untuk sebuah kerinduan

Ada yang menekan perasaannya kuat
Tentang sesal yang ia rasa
Tentang kenang yang ia bawa

Setelah kepergian bapak
Setelah kehilangannya
Setelah kecewanya ada
Ia seperti ingin menyerah
Namun nyatanya,
Tuhan masih mempercayainya

Tuhan kembali menghadirkan hal-hal yang ia rasa sudah tak lagi mampu ia pikul
Namun nyatanya, Tuhan masih memberinya getir dan persimpangan

Nyatanya, Tuhan masih mempercayainya
Untuk menerima itu
Untuk menjalani ini

Tuhan masih mempercayainya
Di tangannya
Di tubuhnya
Di dirinya

06 Maret 2019
san


Read More
Published Maret 06, 2019 by with 0 comment

Pukul Dua Lewat Lima Pagi


Pukul dua lewat lima pagi
Gemericik tetes air makin terasa
Terbangun kala itu
Entah kenapa
Entah mengapa

Namun,
Yang selalu teringat kala aku terjaga
Adalah kamu

Suara hujan makin terdengar, jelas
Seperti kenang yang membekas

Ingatan itu masih ada
Hingga kini
Sampai nanti

Aku tak tahu lagi harus seperti apa
Jalan ini semakin saja buntu
Sepertinya
Meski aku meyakini, bahwa Tuhan akan membukakan nantinya
Entah kapan

Pukul dua lewat lima pagi
Kembali aku  mendekat
Pada Dia yang Mencipta
Pada Dia yang Memberi

Kembali aku mengadu
Setelah pelarian panjang

Pukul dua lewat lima pagi
Kembali menjadi waktu sakral
Tempat ku kembali
Tempat ku berpulang

Pada pemilik hidup
Dan kematian

Pukul dua lewat lima pagi
Ingatan pertama ku tentang bapak
Kemudian kamu
Kemudian Tuhan

Pukul dua lewat lima pagi
Aku kembali terjaga, dari mimpi-mimpi panjang

Pukul dua lewat lima pagi
Aku kembali

06 Maret 2019

san.
Read More

Senin, 04 Maret 2019

Published Maret 04, 2019 by with 0 comment

Senja kita sudah berakhir

Senja kita sudah berakhir

Sejak kapan senja kita hilang, tanyamu

Sejak kau memilih pagi
Yang membangunkan mu dari mimpi
Yang menemani mu ketika membuka mata

Sejak kau memilih fajar
Yang menghangatkan mu ketika dingin menerpa
Yang menyapa kala kau mulai layu

Senja kita sudah berakhir
Pada barisan kalimat yang kau ucap
Pada kata-kata yang menyesakkan
Pada genggam yang tak bisa lagi ku raih

Senja kita sudah berakhir
Pada pilihan realistis yang Tuhan beri
Pada akhir pertemuan kita

Senja kita sudah berakhir

Sejak kau memilih tiada


Maret 2019

san
Read More
Published Maret 04, 2019 by with 0 comment

Pertemuan

Ia lahir karena jumpa
Ia lahir untuk berpisah
Mungkin begitulah adanya
Pertemuan beradu

Saling berjumpa kemudian
Saling berpisah pada waktunya
Setelah sekian waktu bersama
Mengeja cerita
Menulis kenang
Akan ada saatnya pertemuan kembali pulang

Entah apa yang akan pertemuan sisakan
Kerinduan untuk mengadu rasa
Atau
Kepedihan menikam lara

Kerana memang hanya itu yang bisa pertemuan hadirkan
Suka cita
Atau
Duka lara

Kerana memang hanya itu yang bisa temu berikan
Kenang
Atau
Pesakitan setelahnya

04 Maret 2019

san

Read More
Published Maret 04, 2019 by with 0 comment

Persimpangan

Aku berada di persimpangan
Ke kanan tak tahu apa
Ke kiri entah berantah

Berhenti ku disini
Hingga Tuhan putuskan sesuatu
Ku tak lagi ingin
Kerana Tuhan sudah tuliskan

Aku berada di persimpangan
Ke kanan mungkin surga
Ke kiri mungkin neraka
Atau keduanya surga
Atau keduanya neraka
Biar, biar Tuhan yang putuskan
Kerana ku hanya perlu meyakini

Tuhan selalu ada
Selalu ada

04 Maret 2019

san



Read More

Sabtu, 02 Maret 2019

Published Maret 02, 2019 by with 0 comment

Pulang


Terkadang kau berhenti, lantas berlari
Terkadang kau pergi, kemudian kembali
Aku masih disini
Memandangi punggung yang membelakangi

Melihat mu dari jarak tak dekat
Terlihat, meski lamat-lamat

Kau bilang ingin pergi
Lantas, di senja yang lain kau kembali

Kau bilang
Tempat mu pulang bukan disini
Aku mengerti

Lalu, jika bukan hanya untuk singgah
Di putaran waktu yang mana kau akan benar-benar pulang?


02 Maret 2019

san.

Read More

Kamis, 28 Februari 2019

Published Februari 28, 2019 by with 0 comment

Kerana.


Aku berada di titik nadir
Kerana lelah kemudian pasrah
Aku berada di titik bungkam
Kerana gaduh sungguh memuakkan
Aku berada di titik entah
Kerana tahu tak berarti apa-apa

28 Februari 2019

san.
Read More

Rabu, 27 Februari 2019

Published Februari 27, 2019 by with 0 comment

Jika Pada Akhirnya


Jika pada akhirnya
Raga bukan lagi milik diri
Maka, biarkan ia bersama senja
Melepas terang ke dalam gelap

Jika pada akhirnya
Bahagia bukan lagi milik diri
Sepenuhnya
Maka, biarkan ia bersama fajar
Menyapa terang bersama tetesan embun
Biarkan ia mengering
Bersama hadirnya pagi

Jika pada akhirnya
Semesta menarik mu
Jauh,
Jauh ke dalam pusarannya
Maka, biarkan ia roboh dalam pelukan mu
biarkan ia luruh dalam keterpaksaan
Penerimaan
Realita
Dan yang
Fana

Maka, biarkan ia jatuh
Dalam gelap
Dan tak akan kembali
Terang

Februari 2019, Sore

san.
Read More

Selasa, 26 Februari 2019

Published Februari 26, 2019 by with 0 comment

Aku Bercerita

Aku bercerita
Pada senja yang oranye di atas sana
Tentang ingatan
Tentang bayangan
Tentang segala hal
Tentang mu

Aku bercerita
Pada siang yang membiru di atas sana
Bahwa kita pernah bertemu
Di bawah semesta Nya
Bahwa kita pernah tersenyum
Dari jarak tak begitu dekat

Aku bercerita
Pada Bapak
"Apakah dia akan sebaik bapak?"

Bapak hanya tersenyum,
Mengusap hitam rambut anak gadisnya

"Tidak, dia tidak akan seperti bapak."

"Kalau begitu, aku akan cari yang seperti bapak."

"Tidak bisa nak. Tidak bisa."

Aku melirik,
"Kasih bapak dan putrinya dengan kasih dua orang sejoli, berbeda nak."

Bapak kembali melihat ke dalam mataku
Membaca sesuatu, yang entah apa

"Berbeda. Karena akan selalu ada rasa sakit di dalamnya. Seperti bapak dan ibu."

Bapak mendekat
Kembali mendekap
Makin erat

"Hanya bapak yang tidak akan menyakiti putrinya."

Tubuh tuanya menghangat
Mengusap lembut
Dengan raga
Dan jiwanya

Kepergian Bapak
Februari 2019

san.
Read More
Published Februari 26, 2019 by with 0 comment

Kepada Semesta


Kepada semesta
Kau hadirkan ia disini

Kepada semesta
Kau hilangkan ia disini

Sekejap
Menghilang
Dan
Pergi
Tak berbekas
Tak kentara

Kepada semesta
Kau membenci

Kepada semesta pula
Kau menyadari
Bahwa akhirnya
Kepergian adalah nyata
Kepergian adalah fana
Namun kau rasa

Pada semesta
Akhirnya kau menyerah
Menyerah kan raga dan jiwa
Seutuhnya
Seluruhnya

Dan akhirnya
Kau biarkan, semesta merenggut
Segalanya

Jogja,26 Februari 2019

san.
Read More

Minggu, 24 Februari 2019

Published Februari 24, 2019 by with 0 comment

Bapak, Aku Rindu


Kepada bapak
Yang telah tiada
Namun akan selalu ada

Tangan tua renta mulai melemah
Namun hati mu kian merekam
Ingatan-ingatan
Tatkala aku berlari, menangis, mengaduh dan memeluk

Semakin menempa luka
Peluh mu semakin berarti
Semakin menempa getir
Kasih mu semakin menjadi

Tak ada lagi cerita-cerita
Tak ada lagi tembang-tembang
Tak ada lagi doa-doa
Dari bibir renta mu
Dari harap hati mu
Tak ada lagi

Kini,
Hanya kenang yang kan abadi
Hanya kasih yang kian menetap

Bapak,
Terasa ada meski tiada
Akan selalu ada
Kemana pun
Dimana pun
Anak gadisnya ini melangkah

Bapak,
Aku rindu

Februari 2019, Rumah

san.


Read More
Published Februari 24, 2019 by with 0 comment

Hingga Tuhan Berkata Cukup


Jika pergi baru membuat mu sadar
Maka benar ia akan datang
Jika ketiadaan mengartikan ada
Maka benar ia akan datang

Jika sepi mengajarkan bising
Maka benar ia kan datang
Dan
Jika sesal selalu terlambat
Maka sudah benar ia telah datang

Kau berdalih terluka
Entah alibi atau nyata
Maka benar jika kau harus menerimanya
Perjalanannya dan kebenarannya
Bahwa ini adalah kehidupan
Dari Tuhan mu
Dari takdirnya

Tak bisa kau minta
Atau
Kau enyahkan
Karena akhirnya, kau hanya perlu menerima
Terus berjalan
Kembali berjalan
Untuk kembali terjatuh
Dan
Kembali bangun
Hingga Tuhan berkata cukup.

Bapak.
Februari 2019, Kursi Biru

san.
Read More
Published Februari 24, 2019 by with 0 comment

Pualam Rindu


Aku tersadar
Ketika tiba kaki menginjak rumah
Tak ada lagi baring tubuh di ranjang
Tubuh yang mulai menua
Dengan bias tatap yang mulai reda

Aku tersadar
Tak ada yang lebih menyakitkan
Dari hilangnya raga renta mu

Tak ada yang lebih menyedihkan
Dari hilangnya suara bising di rumah tua
Rindu kembali tersesap
Dari sepi yang mulai meranggas
Membiarkan kenang menjadi bayang

Rindu menjelma
Menjadi perih yang teramat pedih

Rindu menjelma
Menjadi sesal yang semakin sesak

Jika hilang adalah nyata
Lalu ada adalah fana
Maka, kepergian membutuhkan doa
Agar tiada selalu ada
Dan yang tiada tetap ada

Dalam ingatan dan doa

Bapak
Februari 2019, Sepi

san
Read More
Published Februari 24, 2019 by with 0 comment

Pada Hujan yang Kian Mendera


Ku dengar rinai hujan
Terdengar lirih kala luruh ke bumi
Hujan,
Membawa mu pada ingatan-ingatan yang ingin ku lupa

Rintiknya kian menderas
Kenangan makin mendera
Pada ingatan-ingatan yang ingin ku lupa
Lajunya makin menderu,
Seperti potret bayang di hadapan
Nampak fana
Namun begitu nyata

Pada ingatan-ingatan yang ingin terbuang
Lajunya makin tajam menghadang
Sudahlah,
Semakin kau ingin lupa
Semakin jelas terasa

Bapak.
Klaten, Februari 2019

san.
Read More

Kamis, 21 Februari 2019

Published Februari 21, 2019 by with 0 comment

Sesuatu Tentang Bapak



Ku ingat hari ini
Ketika ketukan pintu selalu di nanti

Bapak kapan pulang Mak?
Esok lusa, bapak akan pulang

Ah, sungguh senang
Senyum akan terus tersungging, kala itu
Gadis kecil ini akan menantinya
Di bawakan buah tangan
Kata bapak,

Ini bapak beli disana, jauh. Cuman untuk anak bapak.

Baju-baju, makanan, logam receh 500 rupiah

Disimpan disini, katanya

Menunjuk celengan warna merah dari tanah liat

Buat beli baju lebaran. Sambungnya

Lepas itu, ia akan memelukku
Meminta menemani tidur malamnya
Malam malam sebelum ia kembali pergi,
Dan pulang setelah beberapa Minggu mengadu nasib di kota-kota besar

Bapak bilang, ia akan berjualan
Apa saja,
Dimana saja,
Sesederhana itu, namun begitu sempurna
Bapak suka sekali bercerita tentang apa saja,
Rumah jadi ramai, tak lagi sepi
Karena ibu tidak terlalu suka bercerita seperti bapak


Klaten, 20 Februari 2019

Read More