Rabu, 03 Oktober 2018

Published Oktober 03, 2018 by with 6 comments

Review Garis Waktu- Fiersa Besari


Penulis: Fiersa Besari
Penyunting: Juliagar R.N
Penyunting akhir: Agus Wahadyo
Foto: Fiersa Besari
Penata letak: Didit Sasono
Desain cover: Budi Setiawan
Penerbit: Mediakita
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  iv + 212 halaman
ISBN: 978-979-794-525-1

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.
Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
***
Akhir-akhir ini saya selalu suka novel terbitan Media Kita. Banyak novel dengan cover manis, sederhana dan memikat (ini menurut saya). Media Kita melahirkan penulis muda dengan karakter baru, seperti Boy Candra, Tia Setiawati, Abdul Halim dan masih banyak lainnya, salah satunya Fiersa Besari. Saya juga sedang menulis prosa (ala-ala), kemudian menjadikan buku terbitan Media Kita sebagai 'pancingan' untuk mulai menulis (lagi).
Garis waktu merupakan buku kedua Fiersa Besari yang saya baca setelah Konspirasi Alam Semesta. Garis waktu merupakan rangkuman beberapa tulisan Fiersa Besari pada kurun waktu 2012 hingga 2016. Siapa yang tidak kenal lelaki satu ini? Saya yakin bagi penggiat buku-buku, nama Fiersa tidak lagi asing di telinga. Lelaki yang mempunyai beberapa profesi, selain penulis ia juga merupakan musisi, penangkap gerak dan pegiat alam. Kalau kamu mengenalnya sebagai apa? Saya mengenal lelaki ini melalui buku pertamanya Konspirasi Alam Semesta. Review buku pertamanya bisa kamu baca disini.
Dari segi cover, buku ini terlihat sederhana dan bersih. Cover depan juga menyiratkan isi dari buku tersebut. Entah kenapa, menurut saya, hampir semua cover terbitan Media Kita ini selalu menarik. Seperti yang tulis di atas, tampilannya sederhana tapi manis dan sarat makna. 
Garis Waktu seperti sebuah kumpulan surat-surat Fiersa yang tersimpan rapi dalam bentuk buku. Benang merah dari buku ini adalah saat tokoh 'aku' dan 'kamu' memulai kisah dari masa perkenalan, kasmaran, patah hati, hingga pengikhlasan karena akhirnya tidak bisa bersama, yang disusun berdasarkan kronologis bulan dan tahun.
"Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu. Kadang ia datang setelah kau telah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu."
Novel yang menggunakan satu alur saja yaitu alur maju, membuat novel ini kurang greget. Ya wajar saja, dalam novel ini bukan buku yang mengisahkan beberapa kejadian. Masuk dalam kategori prosa yang tidak terlalu banyak konflik. Jangan bayangkan novel yang banyak percakapan atau narasi keadaan dan sebuah tempat, tidak. Novel disajikan dengan narasi dan diksi yang kuat, meski minim dialog. Pembaca seolah diajak untuk merenung dan membangun sendiri adegan demi adegan berdasarkan tokoh 'aku'. Meski fokus pada kisah dua orang anak manusia, novel ini setidaknya membuat kita mengerti bahwa hidup tidak akan seperti apa yang kita inginkan. Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan berbagai orang, yang akan memberikan kita titipan kisah. Ada yang merajut bahagia, canda, tawa dan kesedihan serta mungkin akan mengajarkan kita arti kehilangan. *duh, dalem amat*.
Dalam buku ini, kita akan belajar arti kenapa ada orang-orang yang diberikan Tuhan hanya sekadar mampir, bukan menetap. Ada orang-orang yang merajut bahagia dalam beberapa kurun waktu lalu berakhir dengan perpisahan. Ada orang-orang yang rasanya sangat berarti tapi Tuhan menggariskan kita untuk tidak bersama sepanjang usia.*wushh.
Rekomended buat kamu yang sedang mengalami patah tulang *eh, patah hati maksud saya. Hehe. Kita akan menemukan jawaban kenapa kita harus mengalami kehilangan. Selami lebih dalam novel ini dengan tenang. Jangan gaduh, apalagi sampai mecahin gelas. XD
Memang buku-buku seperti ini terlihat begitu melankolis, bikin baper kalo kata orang. Ekek. Eh, tapi jangan salah, buku ini emang baper, tapi bapernya membangun kok. Kita secara nggak langsung punya mindset yang berbeda tentang patah hati. *ciee, curhat. uhuuk.
Secara keseluruhan buku ini rapi dengan narasi dan diksi yang sarat makna.
 Meski masih seputar jatuh cinta dan patah hati, novel ini ada sisi humanis dan sosial. Seperti cuplikan kalimat dibawah ini,
"Taruh dulu gadget-mu, lalu tatap mataku. Lupakan sejenak mengenai jejaring sosial di antara kau dan aku. Sadarkah bahwa itu semua semu?" hal-79
“Darimu aku belajar menjadi lebih baik.
Denganmu aku belajar untuk melakukan yang terbaik.
Tanpamu aku belajar untuk Memperbaiki. ”
(hal. 167) 
"Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam Semesta bekerja seperti itu." (Hlm. 107)


6 komentar:

lianny hendrawati mengatakan...

Jadi penasaran nih sama bukunya *meskipun aku sedang tidak patah hati hehehe :D
Yup, covernya simple dan bersih, tapi malah membuat hati tertarik untuk mengetahui isi cerita buku ini.

Reyne Raea mengatakan...

Saya malah suka mba alur maju, kalau baca maju mundur suka pusing hehehe.

Suka banget ama cuplikan kalimat hal 79. :D

C mengatakan...

Bukunya keren.... Penasaran banget dengan halaman 107

Nining mengatakan...

"Dalam buku ini, kita akan belajar arti kenapa ada orang-orang yang diberikan Tuhan hanya sekadar mampir, bukan menetap."

Jleb ya,saya trus teringat salah satu ayat di Quran ... QS 2:216

irni mengatakan...

Udah lama gak baca novel akunya. Tapi kalau genre ini juga aku belum bisa baca seh, lebih seneng genre fantasi, hehehe

antung apriana mengatakan...

wah saya kayaknya kudet banget nih nggak tahu sama fiersa besari