Rabu, 31 Oktober 2018

Published Oktober 31, 2018 by with 1 comment

(semacam) cerpen

"Aku ingin menikah lagi Rin." kalimatnya pelan. Tidak seperti biasanya.
"Kau mau menikah dengan siapa mas?" tanya Ririn dengan mimik wajah biasa saja. Ririn seolah tahu hal ini akan terjadi. Wajar, menurutnya.
"Maafkan aku Rin. Tapi ibu ingin aku punya anak. Dan ..."
"Dan itu tidak bisa kamu dapatkan jika masih hidup denganku kan?" Ririn menyela. Dia tahu apa yang menjadi pertimbangan suami dan mertuanya.
"Menikahlah mas. Menikah saja. Aku tidak akan menghalanginya. Jika itu bisa membuat ibu dan kamu bahagia, aku akan turut bahagia."
Ririn menambahkan. Ririn sadar diri, dia bukan wanita sempurna. Ririn tidak sama dengan perempuan pada umumnya. Setelah empat tahun pernikahan, Ririn dan Aldi tidak juga dikaruniai seorang anak. Setelah Ririn didiagnosa mandul, Ririn seakan menyerahkan semua hidupnya pada Tuhan. Dia tahu hal semacam ini akan terjadi, hanya menunggu waktu. Ririn baru menyadari bahwa cinta tak cukup untuk membina keluarga ini. Lelakinya, Aldi Permana sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Dan itu adalah hal yang justru tak bisa ia dapatkan dari Ririn.
Setelah diagnosa dokter, hati Ririn cukup hancur. Bahkan sangat hancur. Selama hampir dua tahun ia menjalani berbagai macam terapi. Mulai dari cara tradisional hingga modern pernah Ririn lakukan, tapi apa daya, dia seorang manusia biasa. Tuhan belum mengijinkan. Tetapi suaminya kali ini mungkin sudah menyerah. Dan Ririn tahu akan hal ini. Dia sudah menyiapkan segala kemungkinan. Hatinya sudah lebih dulu hancur ketimbang mendengar pengakuan suaminya ini, jadi baginya ini bukan lagi sesuatu yang menyakiti. Memang sakit, tidak sesakit apa yang pernah Ririn terima sebelumnya.
Untung saja, Ririn masih punya Tuhan dalam kesehariannya, jika tidak, mungkin kewarasannya akan hilang. Ririn tidak membenci suaminya, ia menganggap bahwa ini atas seizin Tuhan. Seijin Alloh. Jadi bukan sepenuhnya kesalahan suaminya, pikirnya.
"Kita bisa tinggal bertiga disini. Aku akan menganggap ia sebagai adikku." meski kalimat Ririn tercekat, ia berusaha menyampaikan itu sepenuh hati.
"Maafkan aku Rin, tapi dia tidak terima. Dia mau menikah kalau aku sudah bercerai denganmu."
Ririn menghentikan mesin jahit di hadapannya.
"Lalu maksud mas?"
"Maafkan aku Rin."
Lelaki yang sedang menatapnya lekat mencoba mendekat. Ririn beranjak dari kursi jahitnya. Entah, bagaimana lagi dia harus berbuat. Tidak adakah cara lain selain berpisah? Tidakkah ingat bagaimana janji mereka berdua dulu?
"Tidak akan saling pergi, dalam keadaan apapun."kalimat yang mereka ucapkan dengan secangkir kopi yang mereka seduh, berdua. 
Mungkin seperti itulah yang biasa disebut banyak orang sebagai janji manis. Janji yang amat manis tapi nyatanya tak semanis itu. Mungkin juga manusia selalu lupa. Lupa dengan bahagia yang pernah mereka ukir, sebelum kepedihan seperti ini datang. Ririn menyesal mengucap janji di saat bahagianya. Mudah saja orang berucap janji dikala bahagia, yang sulit adalah berjanji di saat kepedihan datang. 
Ririn mengunci pintu kamar. Rapat. Aldi menunggu di luar. Aldi tidak tahu lagi harus bagaimana, dia adalah anak pertama. Lelaki pertama dan satu-satunya. Memiliki keturunan adalah impiannya dan tentu, ibunya. 
Aldi mengetuk pintu. 
"Rin, maafkan aku. Ini ibu yang meminta."
"Lalu tidak bisakah kau menolak? Lalu apa tidak ada cara lain? Aku bersedia jika memang kau harus memiliki wanita kedua, apa itu tidak cukup?" 
Ririn menangis, memeluk erat tubuhnya, sendiri. Dari balik pintu Aldi mendengar, jelas, tangisan istrinya. 
"Apa orang yang biasa kamu ceritakan itu adalah kamu mas? Cerita kamu tentang jika ada seorang lelaki yang sudah beristri memiliki perasaan dengan perempuan lain? Iya?"
Ririn keluar dari kamar. Menatap suaminya lekat. Aldi diam. Itu adalah jawaban. Kali ini, Ririn sudah cukup jelas. Jelas mengetahui siapa suaminya. Kepercayaan yang ia berikan seketika hancur. Lebur. Seiring kediaman suaminya.
Telah habis air mata Ririn. Penerimaan akan kenyataan yang rasanya begitu pahit dirasa kala ia dinyatakan tidak bisa memiliki seorang anak. Dan ia harus menempa getir dengan semua ini? 
"Tidak pernah kau mencintaiku mas. Tidak pernah. Sekarang, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Malam ini, aku akan pergi dari rumah ini."
"Rin,,"Aldi memegang tangan sosok perempuan yang sedang menjatuhkan air matanya untuk keegoisannya. 
"Maafkan aku Rin."
Pada akhirnya cinta saja tidak cukup untuk menerima beberapa hal dalam hidup. Pada akhirnya cinta hanya akan menjadi pembahasan menyenangkan bagi remaja, tapi tidak bagi manusia-manusia dewasa. Cinta dan kebutuhan seolah menjadi hal yang berbeda bagi orang-orang dewasa.

Note: based on true story
Read More

Rabu, 03 Oktober 2018

Published Oktober 03, 2018 by with 6 comments

Review Garis Waktu- Fiersa Besari


Penulis: Fiersa Besari
Penyunting: Juliagar R.N
Penyunting akhir: Agus Wahadyo
Foto: Fiersa Besari
Penata letak: Didit Sasono
Desain cover: Budi Setiawan
Penerbit: Mediakita
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  iv + 212 halaman
ISBN: 978-979-794-525-1

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.
Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
***
Akhir-akhir ini saya selalu suka novel terbitan Media Kita. Banyak novel dengan cover manis, sederhana dan memikat (ini menurut saya). Media Kita melahirkan penulis muda dengan karakter baru, seperti Boy Candra, Tia Setiawati, Abdul Halim dan masih banyak lainnya, salah satunya Fiersa Besari. Saya juga sedang menulis prosa (ala-ala), kemudian menjadikan buku terbitan Media Kita sebagai 'pancingan' untuk mulai menulis (lagi).
Garis waktu merupakan buku kedua Fiersa Besari yang saya baca setelah Konspirasi Alam Semesta. Garis waktu merupakan rangkuman beberapa tulisan Fiersa Besari pada kurun waktu 2012 hingga 2016. Siapa yang tidak kenal lelaki satu ini? Saya yakin bagi penggiat buku-buku, nama Fiersa tidak lagi asing di telinga. Lelaki yang mempunyai beberapa profesi, selain penulis ia juga merupakan musisi, penangkap gerak dan pegiat alam. Kalau kamu mengenalnya sebagai apa? Saya mengenal lelaki ini melalui buku pertamanya Konspirasi Alam Semesta. Review buku pertamanya bisa kamu baca disini.
Dari segi cover, buku ini terlihat sederhana dan bersih. Cover depan juga menyiratkan isi dari buku tersebut. Entah kenapa, menurut saya, hampir semua cover terbitan Media Kita ini selalu menarik. Seperti yang tulis di atas, tampilannya sederhana tapi manis dan sarat makna. 
Garis Waktu seperti sebuah kumpulan surat-surat Fiersa yang tersimpan rapi dalam bentuk buku. Benang merah dari buku ini adalah saat tokoh 'aku' dan 'kamu' memulai kisah dari masa perkenalan, kasmaran, patah hati, hingga pengikhlasan karena akhirnya tidak bisa bersama, yang disusun berdasarkan kronologis bulan dan tahun.
"Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu. Kadang ia datang setelah kau telah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu."
Novel yang menggunakan satu alur saja yaitu alur maju, membuat novel ini kurang greget. Ya wajar saja, dalam novel ini bukan buku yang mengisahkan beberapa kejadian. Masuk dalam kategori prosa yang tidak terlalu banyak konflik. Jangan bayangkan novel yang banyak percakapan atau narasi keadaan dan sebuah tempat, tidak. Novel disajikan dengan narasi dan diksi yang kuat, meski minim dialog. Pembaca seolah diajak untuk merenung dan membangun sendiri adegan demi adegan berdasarkan tokoh 'aku'. Meski fokus pada kisah dua orang anak manusia, novel ini setidaknya membuat kita mengerti bahwa hidup tidak akan seperti apa yang kita inginkan. Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan berbagai orang, yang akan memberikan kita titipan kisah. Ada yang merajut bahagia, canda, tawa dan kesedihan serta mungkin akan mengajarkan kita arti kehilangan. *duh, dalem amat*.
Dalam buku ini, kita akan belajar arti kenapa ada orang-orang yang diberikan Tuhan hanya sekadar mampir, bukan menetap. Ada orang-orang yang merajut bahagia dalam beberapa kurun waktu lalu berakhir dengan perpisahan. Ada orang-orang yang rasanya sangat berarti tapi Tuhan menggariskan kita untuk tidak bersama sepanjang usia.*wushh.
Rekomended buat kamu yang sedang mengalami patah tulang *eh, patah hati maksud saya. Hehe. Kita akan menemukan jawaban kenapa kita harus mengalami kehilangan. Selami lebih dalam novel ini dengan tenang. Jangan gaduh, apalagi sampai mecahin gelas. XD
Memang buku-buku seperti ini terlihat begitu melankolis, bikin baper kalo kata orang. Ekek. Eh, tapi jangan salah, buku ini emang baper, tapi bapernya membangun kok. Kita secara nggak langsung punya mindset yang berbeda tentang patah hati. *ciee, curhat. uhuuk.
Secara keseluruhan buku ini rapi dengan narasi dan diksi yang sarat makna.
 Meski masih seputar jatuh cinta dan patah hati, novel ini ada sisi humanis dan sosial. Seperti cuplikan kalimat dibawah ini,
"Taruh dulu gadget-mu, lalu tatap mataku. Lupakan sejenak mengenai jejaring sosial di antara kau dan aku. Sadarkah bahwa itu semua semu?" hal-79
“Darimu aku belajar menjadi lebih baik.
Denganmu aku belajar untuk melakukan yang terbaik.
Tanpamu aku belajar untuk Memperbaiki. ”
(hal. 167) 
"Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam Semesta bekerja seperti itu." (Hlm. 107)


Read More