Kamis, 20 September 2018

Published September 20, 2018 by with 0 comment

Cerita Tentang Kesetiaan


Tentang Kesetiaan.
Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar perihal kalimat di atas?
Menerima.
Lalu apalagi yang kamu ketahui tentang penerimaan?
Saya gadis 24tahun yang di pertemukan Alloh kepada orang-orang yang sudah banyak mengenyam manis, pahit, asem dan asin kehidupan. Nanonano.
Saya suka mendengarkan orang berbagi pengalamannya. Disini saya ingin membagikan dua kisah Ibu Rumah Tangga, yang membagikan kisahnya dengan saya. Ini kenyataan bukan sinetron.
Saya tidak tahu bagaimana kehidupan berumah tangga yang sebenarnya. Karena saya memang belum melaluinya. Saya kadang heran, kenapa mereka suka sekali menceritakan perihal ini kepada saya yang masih 'bocah', karena kalo dipikir saya tidak akan bisa ngasih solusi atau pun masukan. 
Mungkin itulah yang dinamakan terapi bercerita, banyak orang yang hanya butuh didengarkan tanpa perlu dikomentari.
Perihal Ibu yang pertama, sebut saja A. Dia adalah seorang perempuan 33tahun dengan dua orang anak. Anak perempuan dan laki-laki. Dulu, sebelum kehidupannya berubah seperti sekarang, dia adalah gadis seperti kebanyakan. Gadis yang periang, yang memimpikan kehidupan rumah tangga 'normal'. Mempunyai suami mapan, dengan pekerjaan yang sudah bisa dikatakan makmur, Manager sebuah supermarket ternama.
"Lelaki itu akan tunduk pada tiga hal yaitu Harta, Tahta dan Wanita."
Saya yang masih single (elaah ), tidak terlalu menggubris barisan kalimat di atas, karena ya, saya nggak gitu tertarik untuk membahasnya. Tapi setelah mbak A ini cerita, saya baru sadar, apa-apa yang pernah ditayangkan sinetron di salah satu stasiun TV, dengan berbagai judul Suamiku Bersama Wanita Lain, atau apalah apalah, saya pikir, itu tayangan berlebihan dan tidak mendidik sama sekali. Ya kalik mendidik, jam tayangnya aja pas anak-anak pulang sekolah. Situ mau anak-anak kita dewasa lebih cepat dari usianya. Ish, kalimat barusan adalah salah satu haters dari sinetron tersebut. . Oke, lupakan.
Perselingkuhan.
Baik, kita sudah sampai inti dari masalahnya bukan? Ya, suami mbak A ini selingkuh. Bahasa kerennya, dia udah nikah tapi masih doyan pacaran. Lalu apa yang menarik? Mbak A  seorang istri yang tidak neko-neko, malah cenderung biasa-biasa saja. Bukan istri Manager yang glamor, mungkin bisa dikatakan biasa untuk ukuran istri Manager.Yang terpenting baginya adalah kehidupannya sudah cukup dengan memiliki suami dan anak, apalagi dapat bonus pekerjaan suami yang memang sudah mapan. Tapi emang dasar ni lakik yang nggak tahu bersyukur atau apa, dia selingkuh, tidak hanya sekali dua kali, tidak. Lima kali. Ya Alloh, bisa bayangin nggak tuh, Sampek yang terakhir bener-bener 'jadi'. Gilak, sabar banget Sik mbak kamu. Itu kalimat yang aku lontarkan. Pemaafnya kebangetan. Sampai dia masih bisa maafin meskipun udah lima kali di curangi, dan apa si perempuan ini membalas? Tidak. Dia masih punya harapan bahwa suaminya akan berubah. Setelah kejadian tersebut karir suami mulai hancur. Alhasil, keluarga yang masih di perantauan ini pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Jogja, dimana suaminya berasal. Harapan mbak A masih ada, berharap setelah suaminya kembali ke rumah, dimana dia di lahiran, dia berharap suaminya bisa (setidaknya) introspeksi diri. Tapi kenyataan memang tak selalu dengan harapan. Suaminya tidak berubah sama sekali. Kebiasaan dan adatnya masih sama. Bagi perempuan ini, anak-anak harus tumbuh dengan seorang Ayah. Ia tidak ingin anak-anaknya kehilangan figur seorang Ayah, nggak tega, katanya. Tapi apa setelah mereka hidup berdampingan dengan kondisi yang sudah tidak lagi sama, keadaan akan kembali seperti semula? Tidak. Ada yang bilang, kekecewaan itu ibarat seperti kertas yang diremas. Ketika kamu mencoba untuk mengembalikan kertas ke keadaan semula, itu sia-sia belaka. Bekas remasan itu masih ada, dan tidak bisa kamu kembalikan seperti semula. Tidak berlebihan, jika diibaratkan seperti itu. Sebagai seorang perempuan, seharusnya kesalahan yang sudah diulangi berkali-kali, itu bukanlah perkara mudah untuk memaafkan. Kata maaf, memang bisa saja ia ucapkan. Tapi perkara hati dan perasaan? Tidak berlebihan jika perempuan ini tak lagi menaruh percaya dengan suaminya sendiri. Lantas, disini siapa yang salah? Saya tidak ingin membahas tentang itu. Tidak.
Tapi saya jadi ikut mempertanyakan apa benar, perkara menikah hanya perihal kebutuhan biologis dan pengakuan bahwa ia normal semata? Setelah semua itu tercapai, ia dengan mudahnya untuk berpaling tanpa ingat bagaimana awal hubungan mereka bermula.
Dari sini mbak A menjawab sebenarnya masalah utama ada pada pengenalan ia (suami) dengan Tuhannya atau tidak. Ya, mbak A ini pun merasakan suaminya memang kurang mengenal agama atau bahkan tidak mengenal Tuhannya. Makanya rasa tanggung jawab juga tidak berarti bagi suaminya ini.
Meski begitu, mbak A tidak menganggap semua perempuan pelakor itu sama, tidak. Bahkan ada salah seorang temannya yang juga mempunyai 'profesi' sebagai pelakor, tapi mbak A ini bahkan berteman baik. Dia memang begitu terbuka tentang banyak hal, menurut saya. Dia sering sharing dengan teman pelakornya ini, bahkan temannya ini menilai suaminya memang tipe lelaki hidung belang. Dan yang paling tidak disangka berkat mbak A, si pelakor (yang merupakan temannya mbak A) ini berubah. Dia mulai berubah karena sharing barengnya dengan mbak A. Si Pelakor juga jadi sadar, bagaimana tindakannya selama ini melukai perempuan lain. Alhamdulillah dia masih di kasih kesadaran. Dan bahkan sekarang dia mulai menggunakan hijab.
Terkadang kita tak sadar, cerita yang kita bagikan sama orang lain, akan membuat perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Seperti kisah di atas. Ini real kenyataannya. Semoga mbak A diberikan jalan yang lebih baik lagi nantinya. Amiin.

Dan kedua sebut saja mbak B. Beliau seorang perempuan yang ditinggal suaminya karena pernikahannya selama beberapa tahun belum menghasilkan keturunan. Dia sudah mengusahakan banyak hal untuk mendapatkan momongan, tapi Alloh belum berkehendak, jika sudah seperti itu, manusia bisa apa? Menerima dengan terus berdoa dan ikhtiar bukan?
Lalu secara tiba-tiba dia (suami) dengan terang-terangan mengungkapkan bahwa ia ingin memiliki keturunan, dan salah satunya dengan menikah lagi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mbak B ini, betapa hancurnya, betapa sakitnya. Dan sekali lagi, ini bukan cerita fiksi, ini nyata. Orang yang mengalaminya ada dihadapanku, saat ini. Apa yang perempuan ini katakan, dia bersedia jika seandainya suaminya ingin menikah lagi. Mungkin, perempuan ini ingin memberikan kebahagiaan pada suaminya , walaupun harus dengan cara seperti ini. Tapi apa yang suaminya katakan?
"Tapi dia tidak mau di madu."
Dan suaminya setuju dengan calon istri barunya tersebut. Ya Alloh, enggak tahu lagi gimana mbak B ini mengahadapi kenyataan pahit ini. Seolah ia sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sakit tubuh yang ia rasakan karena terapi tak sebanding dengan pernyataan suami barusan. Ini lebih menyakitkan, aku tidak meragukan itu. Dan yang lebih menyakitkan bahwa suami mbak B ini menceritakan yang ternyata dia sendiri pelakunya. Suami mbak B diam-diam telah menjalin hubungan sebelumnya.
Lalu yang kemudian menjadi pertanyaan dari kisah keduanya, apa memang cinta bagi orang-orang dewasa tidak lagi ada? Mereka akan lebih memilih menggunakan logika daripada hati nuraninya? Apakah memang seperti itu?
Jika yang mau mereka terima hal baik saja, lalu dimana letak hati yang selama ini ada dalam diri?  Jika memang sudah mengikrarkan janji, suka dan duka bukankah memang harus dijalani bersama? Apa cinta memang hanya untuk manusia yang masih berusia belia? Apa cinta memang hanya milik muda-mudi dan setelah dewasa semua hal harus menggunakan logika?
Mungkin, di luar sana juga masih ada kasus-kasus serupa.
Perselingkuhan dengan alasan apapun saya rasa tidak dibenarkan, entah dari segi agama atau moral.

0 komentar:

Posting Komentar