Selasa, 28 Agustus 2018

Published Agustus 28, 2018 by with 0 comment

Resensi Novel Pergi Tere Liye

Penulis : Tere Liye
Co-author: Sarippudin
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Lay out: Alfian


Blurb:
"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan,
kemana hendak pergi,
melalui kenangan,
demi kenangan masa lalu,
pertarungan hidup-mati,
untuk memutuskan
kemana langkah kaki
akan dibawa.
Pergi."

Diawali dengan adegan Bujang, Salonga, White, Kiko dan Yuki berada di sebuah gudang kontiner dekat dengan stasiun kereta api di perbatasan Meksiko. Mereka sedang baku tembak dengan musuh. Meski sebenarnya yang sedang baku tembak adalah Salonga dan Bujang sedang Kiko dan Yuki (Si Kembar) hanya menikmati jus nan segar yang ia bawa. Sungguh adegan yang mengundang tawa. XD
Mereka sedang berusaha untuk merebut tekhnologi Keluarga Tong yang dicuri oleh kelompok lain. Teknologi yang sangat penting untuk keluarga Tong. Prototype, begitu mereka menyebutnya.Masalah yang sedang di hadapi Bujang sebenarnya adalah Master Dragon, salah satu penguasa shadow economy. Master Dragon menabuh genderang perang dengan keluarga Tong. Master Dragon ingin menghabisi Bujang.
Bujang siapa? Bujang adalah Tauke Besar di Keluarga Tong saat ini karena Tauke Besar sebelumnya sudah meninggal (dalam buku Pulang). Diceritakan bahwa ada delapan keluarga pemilik shadow economy di Asia Pasifik, salah duanya Keluarga Tong dan Master Dragon.
Konflik kembali muncul ketika seseorang yang tidak Bujang kenal muncul dan juga berusaha merebut teknologi Keluarga Tong.
"Agam."sosok lelaki dengan topeng berwarna hitam itu berucap, seketika Bujang terpana. Bagaimana tidak? Lelaki yang tidak ia kenal memanggilnya dengan nama asli Bujang, padahal hanya tujuh orang yang tahu nama asli Bujang dan lelaki yang sedang berhadapan dengannya ini bukan salah tujuhnya. Ini membuat Bujang tidak berhenti memikirkan lelaki yang tampak seperti zorro tersebut, apalagi lelaki yang juga memanggilnya 'Hermanito' itu berhasil merebut teknologi milik keluarga Tong. Hermanito dalam bahasa spanyol berarti kakak/adik kecil (benarkan jika salah). Karena pertemuan dengan seseorang yang mengaku sebagai El Spiritu inilah akhirnya Bujang menemukan siapa dirinya, Bagaimana kehidupan Ayahnya kala itu, kehidupan sebelum Bujang lahir, kehidupan masa muda sang Ayah yang membawa Bujang pada kenangan masa lalu yang belum pernah ia tahu sebelumnya.
Tidak sampai disitu Bujang mendapati beberapa tantangan dalam satu waktu. Percobaan pembunuhannya beberapa kali digagalkan oleh orang-orang terdekatnya bahkan ada satu scene yang membuatku begitu sedih, dimana ada seorang anak berusia delapan belas tahun putra dari Lubai meninggal karena menyelamatkan Bujang dari kematian. Seorang anak muda yang mempunyai cita-cita luhur untuk banyak orang. Sedih aku tuh kehilangan Rambang. ekekek
Hingga bab hampir habis saya belum menemukan definisi 'Pergi'. Seolah-olah pembaca diajak untuk menelusuri kemana akhirnya Bujang akan membawa keluarga Tong ini pergi? Apakah selamanya ia akan meneruskan shadow economy atau Bujang akan menemukan jalan yang lebih baik daripada bisnis ini?
"Kehidupanmu ada dipersimpangan berikutnya, Agam. Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang, dan kamu berhasil menemukannya, bahwa siapapun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan. kamu akhirnya pulang menjenguk pusara Bapak dan Mamak mu, berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutnya menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, kemana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat kemana? Bersama siapa? Apa 'kendaraanya' ? Dan kemana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu, Bujang. Menemukan jawaban tersebut. 'Kamu akan pergi kemana nak?" hal-128
Di beberapa bagian TL menulis (yang menurut saya) sindirian untuk oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, seperti,
 "Aih, bicara soal merampok, politisi korup di dunia jauh lebih sadis dibanding perampok bank, mereka bisa merampok uang berkali lipat tanpa harus menarik pelatuk senapan, cukup lewat transfer."-hal 286
Kalimat fiksi yang nyata bukan? Novel Pergi merupakan sekuel dari novel Pulang. Saya sendiri belum baca novel tersebut, tapi itu tidak menjadi masalah karena Tere Liye menghadirkan beberapa cuplikan dalam novel Pulang kesini, jadi tidak terlalu sulit untuk memahami cerita dalam novel Pergi. Tapi tetep kalo udah baca novel Pergi pasti penasaran sama novel Pulang.
 Tere Liye menghadirkan novel Pergi dengan narasi yang ciamik di setiap babnya. Narasi yang tidak terlalu berat dan mudah dipahami membuat pembaca betah untuk terus melanjutkan dari bab ke bab.
Meski bukan penggemar Tere Liye yang addict tapi saya tahu jika akhir 2017 lalu Tere Liye sempat mengumumkan bahwa tidak lagi menerbitkan novel cetak dan entah kenapa akhirnya beliau mau menerbitkan (lagi). oke, saya tidak mau membahas tentang itu. Lanjut ngobrolin novel Tere Liye yuk.
"... dalam banyak hal kita tidak bisa memilih waktu terbaik. Saat sesuatu itu datang, kita hanya bersiap menghadapinya." hal-195
Indonesia,Meksiko,Singapura,Spanyol,Moskow,Tokyo adalah beberapa setting tempat yang TL buat. Deskripsi dan narasi dari TL yang menuliskan keindahan dan detail dari setiap tempat, serta beberapa budaya di setiap negara benar-benar memikat hati. *uhuk
Novel action dibumbui dengan komedi di beberapa bagian membuat novel ini semakin seru untuk terus dilanjutkan. Diselipi kisah asmara Ayah Bujang yang cukup pelik. Beneran, bikin nggak berhenti bacanya. *uluhuluh
Kisah-kisahnya layak seperti film hollywood, jadi ngebayangin kalo misalnya beneran di jadikan film. Sebelumnya saya bukan tipe yang suka menghabiskan novel bergenre action (kalo genre action biasanya lebih suka filmnya), tapi ini novel setebal 456 halaman habis dalam lima kali baca, bener-bener rekor untuk saya sendiri. Hehe. Karena biasanya novel setebal ini bisa saya selesaikan lebih dari dua minggu. Ekek.
Novel yang syarat akan arti kehidupan (duh, dalem amat), tentang pengkhianatan, tentang persahabatan, tentang keluarga dan akhirnya menemukan tujuan, bagus untuk dinikmati semua kalangan. Meski akhirnya menurutku endingnya masih nggantung sih.
Nikmati saja setiap alurnya, siapkan makanan yang banyak ya. :D         

0 komentar:

Posting Komentar