Jumat, 06 Oktober 2017

Published Oktober 06, 2017 by with 0 comment

Aku dan Sebuah Cerita

"Lalu mau sampai kapan,kamu seperti ini? Membenci Tuhan karena memberikan kisah hidup yang tidak pernah kamu impikan? Iya,  ini memang berat. Rasanya tidak adil,seolah-olah Tuhan tidak mengijinkan kamu benar-benar bahagia. Itu wajar, kamu merasa menyesal dengan semua yang sudah terjadi, itu manusiawi. Kamu memang bukan malaikat." Sebuah suara kembali terdengar.Meski hanya pelan,setidaknya itu bisa menenangkan perasaanku.
"Aku menyayanginya.Meski kekecewaan itu ia goreskan begitu dalam Bi. Aku kecewa karena ia seperti tak ingat orang yang telah mengandungnya. Bagaimana perasaan Ibu? Meski aku tahu, Ibu tidak akan pernah menangis dengan semua ini. Aku tidak pernah melihatnya menangis. Mungkin Ibu sudah memaafkannya.Mungkin. Yang aku takutkan hanya satu, ketika Ibu tidak menunjukkan perasaan yang sebenarnya.."
"Aku tahu,kamu takut Ibu membawa ini dalam kesehariannya kan? Dan kekhawatiran akan sebuah hal akan semakin berlebih, terutama padamu,adik lelakimu dan ayahmu."
"Memang benar kan? Coba lihat sekarang, apa ia membiarkanku pergi dari rumah? Ia lebih tenang jika anak-anaknya terkurung dalam rumah. Meski niatnya baik, tapi itu seperti membunuh aku dan Yudha pelan-pelan."
"Hush,, jaga mulutmu itu."suara itu membungkam mulutku.
"Kau lihat bagaimana Yudha  sekarang? Dia seperti bukan adik lelakiku yang dulu. Bahkan aku seperti tidak mengenalnya."
"Setidaknya ia masih sadar,bahwa ia selalu punya sandaran, yaitu kamu. Kakak perempuan satu-satunya. Aku tahu kamu ingin bilang, ini semua gara-gara dia."
"Jika aku boleh bilang begitu."aku
"Sudah berapa lama kamu habiskan waktu untuk menyalahkannya? Menyalahkan takdir-Nya?"
"Dia yang salah. Bukan Tuhan,dia yang pergi dan seakan tidak punya keluarga disini, dia sendiri yang membuat rumah ini rasanya asing. Dia sendiri yang buat."aku
"Baik, kamu benar. Itu tidak salah, kamu berhak mempunyai pikiran seperti itu, karena aku tahu bagaimana rasanya kecewa dan sakit hati, apalagi itu yang ngebuat orang yang benar-benar kamu sayangi sedari kecil.Mungkin bisa diibaratkan hati kamu sebuah kertas, lalu kertas itu ia remas, kemudian orang itu mencoba untuk mengembalikan kertas seperti semula, seperti kertas baru lagi, tapi aku yakin itu tidak mungkin."
"Nha tu tahu. Ibu bisa saja memaafkannya dan seolah tidak kecewa dengan anak perempuanya. Tapi sikapnya menjadi sangat berbeda semenjak itu. Aku masih ingat, setelah kejadian itu Ibu seperti monster yang siap menelan siapa saja yang ingin mendekatinya, bahkan dengan Ayah sekalipun. Tapi dia tidak merasakannya bukan? Yang merasakan siapa?Aku, Yudha dan Ayah. Apa dia mau tahu hal itu? Lalu apa aku salah jika aku bukan seperti adiknya yang dulu. Ibu terlampau kecewa, tapi apa Ibu pernah menangis?Tidak.  Kau tahu kan itu lebih bahaya."
"Ta, aku tahu pasti kamu akan dibayangi dengan semua itu.Setiap orang pasti pernah merasakan kecewa atas sebuah hal, tak terkecuali kamu dan Ibu kamu..."
"Tapi dia yang buat.Dia yang buat Ibu dan keluarga ini semakin berantakan.Kau tahu kan, bagaimana Ibu dulu begitu membanggakan anak pertamanya itu,membawa selembar surat yang pernah anak pertamanya itu tulis, kemana pun dan kapan pun. Tidakkah dia sadar betapa Ibu mencintainya? Betapa Ibu merindukannya?Lalu tiba-tiba ia patahkan semua harapan Ibu seketika.Ibu menangis dalam diam dan kekakuannya, hanya Ibu tak pandai untuk memperlihatkan itu pada kami. Ibu semakin menutup diri setelah kejadian itu."aku

0 komentar:

Posting Komentar