Rabu, 21 Desember 2016

Published Desember 21, 2016 by

-Review- Sabtu Bersama Bapak

Penulis : Adhitya Mulya
Penyunting : Resita Wahyu Ferbriarti
Proofreader : Yuke Ratna P & Mita M. Supardi
Penata Letak : Landi A. handwiko
Desainer sampul : Jeffri Fernando

Blurb :
 "Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan ... Tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka."


Membaca sinopsis buku ini untuk pertama kalinya langsung bisa menebak bahwa ini cerita tentang kehilangan seorang bapak. Ya, awal dan inti buku ini sudah bisa dibaca jelas saat membaca sinopsis nya.
Baiklah, ini memang bukan buku baru. Kenapa saya baru reviews? Karena saya baru baca hari ini. Ini buku yang udah dicetak selama belasan kali dan bahkan udah dibikin pelm. Tapi belom nonton pelm nya kayak apa.

Ini adalah sebuah novel yang sarat makna. Melalui buku ini untuk para lelaki kamu akan belajar bagaimana menjadi sosok lelaki idaman seperti ini pak Gunawan Garnida. Bagaimana lelaki ini begitu bertanggung jawab dengan keluarganya bahkan setelah beliau tak ada.

"Kewajiban suami adalah siap lahir dan batin. Ketika Bapak menikah tanpa persiapan lahir yang matang, itu artinya batin Bapak juga belum matang. Belum siap mentalnya. Karena Bapak gak cukup dewasa untuk mikir apa itu arti dari 'siap melindungi'. hlm 19

You know It special. Pemikiran yang sederhana tapi sangat spesial. -baper-. Membaca novel ini, berkali kali saya ucapkan ,"Di dunia nyata , ada ga lelaki seperti pak Gunawan. Oh, Alloh beri saya satu saja." #eh
Dalam 'Hatur nuwun' penulisnya bapak Adhitya Mulya, beliau menuliskan bahwa novel ini ditulis selama 2tahun, tapi dibuat selama 36tahun. Artinya memang masih ada lelaki seperti pak Gunawan Garnida bukan?? -semoga Alloh memberikan satu untuk saya- #ehlagi Haha

" Saka membuktikan kepada diri sendiri dulu. Bahwa Saka siap  lahir batin untuk jadi suami. Makanya ngejar karier dulu. Belajar agama dulu. Nabung dulu. Kalau saka udah pede dengan diri sendiri, Saka akan pede sama perempuan."

Nah Lo.. gue langsung melongok membaca kalimat ini. Ada ya di dunia nyata lelaki kayak gini?? Merasa belum pantas menikah bukan karena ga mampu untuk mencarinya tapi lebih memikirkan masa depan bersama wanitanya nanti, meski wanitanya belum tahu siapa. Mungkin ada, tapi 1000:1. Langka. -Ya Alloh, satu saja lelaki seperti ink untuk saya-. #eh

" Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat."
"Iya, sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. Mamah tahu itu. Bapak juga  gitu dulu." Hlm 17

Duh.  Baper baca kalimat Saka. Masih ada kan lelaki seperti ini -satu aja Tuhan, buat santi- #Eh
Kalimat dan bahasa yang dipakai Om -sokakrab- Adhitya Mulya mudah dipahami. Kalimat sederhana tapi elegan. Disini kamu juga bakal nemuin kenapa nilai IPK begitu penting buat masa depan kamu, bukan hanya 'Toh kita kuliah cuman nyari title' . Dalam buku ini kamu bakalan nemuin alasan ada yang lebih dari sekadar title. Saya setuju , ini seperti satu pemikiran dengan saya, ketika banyak sekali sekelilingku memandang kuliah sebagai gaya dsb.

Dalam buku ini kamu juga bakal dikenalin sama Saka sang gembel cinta yang sweet banget. Dikenalin sama Satya yang khilaf, karena tak semua orang bisa seperti dirinya meski itu anak-anaknya. Seorang Ayah ga bisa maksain anak-anak nya seperti apa yang mereka inginkan. Cause every soon is special, you know?
Baca buku ini ga bakalan garing karena Om Adhitya Mulya pinter banget nyisipin humor disetiap bagian.

Recomended banget buat calon suami -calon siapa?- atau lelaki yang mau punya anak-anak. Kamu bisa belajar banyak meski novel ini terkesan begitu sederhana but dont judge by cover, right??
Happy reading..



Read More