Minggu, 20 November 2016

Published November 20, 2016 by

Review Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai


Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai

Penulis  : Boy Candra
Penyunting  : Irwan Rouf
Proofreader  : Sudarma S.
Desain Cover  : Bui Setiawan
Penata Letak   : Didit Sasono
Ilustrasi Isi  : Di2t

" Buku ini saya persembahkan untuk orang-orang yang pernah dilukai, hingga susah melupakan. Untuk orang-orang yang pernah mencintai, tapi dikhianati. Juga yang pernah mengkhianati, lalu menyadari semua bukanlah hal baik untuk hati. Kepada orang yang jatuh cinta diam-diam,suka pada sahabat sendiri, tidak bisa berpaling dari orang yang sama, dan hal-hal yang lebih pahit dari itu. Saya pernah ada diposisi kamu saat ini. Mari mengenang tapi jangan lupa jalan pulang. Sebab setelah tualang panjang ke masa lalu, kamu harus menjadi lebih baik. Dan mulailah menata rindu yang baru.
Katakan kepada masa lalu: kita adalah cerita yang telah usai."

Ini adalah buku pertama mas Boy Candra yang saya baca. Saya tahu buku ini awalnya dari sebuah IG toko buku. Hebatnya, saya hanya membaca blurbnya via IG tersebut, selang satu jam kemudian saya memutuskan untuk memburu nih buku. Saya pecinta novel romantic. Membaca tulisannya mas @dsuperboy (twitter) langsung jatuh cinta. Jatuh cinta pada bacaan pertama.
Covernya kece. Monokrom gitu.  Sebenernya ini bukan novel. Ini buku kumpulan prosa -kalau saya bilang- mas Boy. Disini kamu akan diajak mengenang masa-masa abg (duh, jadi nyadar kalo bukan abg lagi).Tentang cinta pertama -mereka menyebutnya seperti itu-, cinta bertepuk sebelah tangan dengan sahabat sendiri  Juga tentang bagaimana rasanya dikhianati dan berkhianat. Uh... prosanya bikin baper-kata anak sekarang- (saya anak dulu. haha).
Membaca buku ini kamu akan sadar, setiap orang mempunyai kisah hati masing-masing. Perjalanan itu tak bisa dihapus, tak bisa disesali karena semua sudah menjadi jalannya masing-masing. #eaaaa

"Namun, akhirnya saya hanya ingin bahagia. Dengan seseorang yang menerima saya tanpa pernah bertanya darimana masa lalumu."

"Itulah sebab mengapa aku suka mengajakmu duduk berlama lama. Terkadang tidak terlalu banyak bicara. Kita hanya menikmati udara sambil saling menatap."

"Jangan pergi meninggalkan hati, meski tanpamu aku akan tetap berusaha untuk tidak mati."

"Bukankah kebahagiaan sejati hanyalah tentang bagaimana kita menciptakan dan menikmatinya?"

"Sebab, terkadang cinta lebih kuat dari apapun. Ia bertahan dan tak mau pergi, meski tak juga memiliki. Ia tetap ingin menjadi ada, bahkan pada seseorang yang menganggapnya tiada."

"Pahamilah dengan baik, cinta yang baik akan membuat perasaan kita baik-baik saja."

"Sedari awal ini perasaanku sendiri, mungkin memang hanya aku yang harus menikmati."
"Karena setiap kali kamu menatapku,setiap kali kamu membalas ucapan ku , aku harus berkali-kali menekan kan pada hatiku."

Itu sedikit cuplikan novel mas Boy. Mau baca lanjutannya? Buruan buru buku ini..