Sabtu, 26 Maret 2016

Published Maret 26, 2016 by

[GaJe] Sejuta Cokelat, Sejuta Maaf


Bagaimana kamu saat ini??

Sudah hampir dua tahun
Tanpamu
Benar-benar tanpamu

Dulu, aku ingat sekali pernah bertengkar hebat denganmu. Tak sampai satu hari salah satu di antara kita mengalah.

"Kau masih marah?"
5 menit, 10 menit aku yakin sebentar lagi handphone akan berdering lebih lama dan....

~dering coldplay, fix you~ berbunyi
Ah,, aku tak akan pernah salah dengan tebakanku.

"Hmmm..." kataku singkat.
"Masih marah?"
"Hmm..."

Sudah biasa seperti ini.
"Mau coklat berapa?"
"Ga mau."
"5 atau 10?"
 Aku ga mungkin tahan dengan godaan coklat ini. Aduh... Please kamu punya harga diri...

"Yakin nih ga mau?? Ya udah besok aku kirim ke.."
"Boleh. 15."
"Kau ini. Itu namanya ngerampok. Ish..."
"Ya sudah kalo ga mau."
"Baiklah. Aku salah. Sorry. Besok coklatnya mendarat disitu. Hmm..."
"Kalo ga ikhlas mending ga usah deh.."
"Enggak kok. Enggak. Suer dah... Beneran."

Begitulah. Kemarahan akan lenyap jika ia mengirimkan sekotak besar cokelat. Yah, anggap saja itu sogokkan. Karena dia memang salah. Pun jika aku melakukan hal yang sama, bukan cokelat sebagai gantinya tapi gelang sejenis barcelet yang ia suka. Itu untuk kami lebih dari cukup sebagai ungkapan maaf. Tak pernah lebih dari tiga hari kemarahan kami. Karena keyakinan kami sama, marah lebih dari tiga hari dalam islam itu dosa mendosakan.

Begitulah kami bersahabat selama hampir enam tahun. Dimulai sejak SMP hingga saat ini kami telah menamatkan sekolah hingga SMA. Meski kami terpisah secara raga tapi tidak dengan jiwa kami. Kami selalu akan menelepon di akhir kesibukan kami setiap hari. Ini sahabat, baginya.

Sampai pada akhirnya rasa yang tak seharusnya ada itu hadir. Aku benci. Aku membenci rasa yang menghancurkan persahabatan kami. Pengakuan dia, menghancurkan segalanya. Aku bingung. Aku tak ingin persahabatan ini berakhir.

"Saya tak mengerti. Mungkin berjuta cokelat tak akan mampu membuatmu untuk memaafkanku. Tapi aku hanya seorang manusia. Saya tak mempunyai rencana untuk membuat ini rumit. Ini hanya perasaan dari manusia yang harus kamu tahu. Cukup tahu, tanpa kau harus membalas apa-apa. Apalagi memintamu untuk menerimanya, itu lancang. Maaf."

Itu kalimat terakhir yang masih terngiang hingga hari ini. Bahkan aku masih menyimpan kalimat itu.

Dua tahun sudah kita lalui. Dengan kebisuan. Dengan ketidakpedulian. Dengan kebekuan yang entah kapan akan mencair. Maaf, tak membalas kalimat itu. Hanya, aku tak tahu. Aku tak yakin dengan perasaanku. Aku tak mau kau terluka, karena aku telah bersama wanita lain. Saya tak mungkin menyakitinya juga tak mau engkau pergi. Meski hingga hari ini, kau masih disebuah tempat yang takku ketahui. Bukan tak berusaha untuk menanyakan kabarmu, hanya aku terlalu tahu bagaimana engkau.
Mungkin lebih baik seperti ini. Sampai kau benar-benar tak mempunyai rasa apa-apa. Aku tahu, setengah hatiku mencintaimu. Mengharapmu hadir seperti dulu.

By (sebutsaja) Gendhis