Minggu, 31 Januari 2016

Published Januari 31, 2016 by

Book Addict is The New Sexy : From Me To Me

       

       Membaca. Entah kenapa hobi membaca di Indonesia masih menjadi hal yang langka. Kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena itu yang masih saya alami hingga kini. Ketika di taman kota saya membaca buku, tiba-tiba ada seorang berceloteh,”Baca buku kok dikeramaian gini?Sok pinter.” saya tak menggubrisnya. Memberikan penjelasan pada orang yang tidak paham lebih sulit daripada menjelaskan pada orang yang tidak tahu. Membaca di muka umum dikampung saya adalah sesuatu yang masih asing. Masih dibilang ‘sok rajin’.   Bahkan dikampung ini saya belum menemukan teman yang mempunyai hobi membaca. Mungkin. Teman paling dekat pun pernah bilang,”Habis kamu perginya cuma ke toko buku atau perpus , mana aku betah?” Ya, kalo urusan pergi ke toko buku atau perpus, saya memang lebih nyaman sendiri. Saya malah kasihan kalo ajak temen , karena lebih lama daripada shopping di mall.  :D
        Andai membaca merupakan sebuah hal ‘kekinian’. Pasti anak-anak muda akan tertarik. Budaya membaca juga harus disebarkan pemerintah hlo. Misalnya nih di tv, radio ada iklan gerakan membaca atau budayakan membaca, atau pemerintah bisa membuat terobosan baru untuk pemuda di Indonesia bisa suka membaca atau setidaknya membiasakan murid sekolah membaca. Caranya? Membuat membaca itu menjadi menyenangkan. Misalnya pemerintah membangun sebuah mall atau tempat-tempat nongkrong anak-anak muda khusus untuk membaca. Mall Buku, mungkin. Tapi tetep ada unsur cafe biar kekinian. Harganya juga disesuaikan tarif pelajar. Ya, kalo ga di coba kan siapa yang tahu??
        Sebenernya di era yang serba digital ini semua manusia sudah dibiasakan dengan membaca. Misal membaca facebook, twitter, instagram, blog atau segala macam jenisnya. Sebenernya hobi membaca mulai dari membaca sms, whatsapp, line itu udah termasuk membaca kan? Yaps,, meski konteksnya masih pribadi. Ngomong-ngomong membaca soal sosmed jadi inget tadi ada yang bilang gini,”Hlo saya ga pernah statement seperti itu?” artis ini malah kaget karena artikel yang ditujukan untuknya tidak benar. Dan tidak sesuai dengan apa yang ia bicarakan saat wawancara. Lalu kemudian dia menambahkan,”Namanya juga media. Mungkin nilai jualnya disitu.” Saya langsung tercengang. Begitukah media kita beredar. Yang tidak terjadi juga di ada-adakan? Parah. Itu sudah masuk dalam kategori fitnah dong?
        Sebenernya bukan tanpa sebab media seperti itu. Bisa jadi, kita para pembaca yang membuat hal yang seharusnya tak layak baca tapi malah kita cari. Kasus perceraian artis misalnya? Duh... penting amat yak buat di sidikili?? Eh selidiki maksudnya. Lalu artikel tentang hoax yang belum tentu kebenarannya meski artikel tersebut kesehatan, kecantikan bahkan kadang artikel yang isinya cuman bikin ngeri atau takut.  Coba deh, kita mulai dari diri sendiri. Membiasakan memilah-milah artikel yang harus kita baca dan tidak. Atau seandainya kita membaca artikel , tapi tidak tahu itu hoax bukan, sebaiknya jangan langsung di share ya. Share yang memang sudah terbukti saja. Jadikan Negara kita berkelas, karena bacaan kita bukan hoax dan issue.
Aku bukan anak kuliah. Bukan mahasiswa. Tapi saya tak ingin menjadi calon ibu yang malas. Caranya gimana? Dengan membaca dan menulis, salah satunya. Menjadi mahasiswa belum menjamin seseorang punya hobi membaca. Banyak sekali teman saya yang enggan untuk membaca bahkan dia mengambil kuliah jurusan sastra~pengenbanget~. Kenapa? Entahlah, mungkin karena tak suka membaca, atau suka tapi malas, bisa juga hobi membaca masih termasuk dalam golongan kaum minoritas. Banyak di antara kita yang meninggalkan sebuah hal hanya karena ‘tidak ada temannya’, padahal itu sangat bermanfaat.
        Kembali soal hobi membaca
Saya percaya semalas-malasnya kita baca buku, tapi kita paling senang jika kelak anak kita nanti rajin membaca buku. Setuju nggak sih kalian? Tapi bagaimanapun keinginan baik seorang ibu atau ayah, tetap tak akan berguna jika itu tak dipraktekkan oleh keduanya. Kelak akan menjadi apa anak kita nanti, itu tergantung bagaimana calon ibu dan ayah masa kini.
        Ayo dong, pemuda Indonesia lestarikan budayakan membaca. Untuk anak cucu kita juga hlo. Biar membaca bisa jadi gaya hidup di era dunia digital ini. Kebanyakan nih ya, kalo orang udah hobi membaca , ga sedikit kemungkinan yang bisa melanjutkan hobi jadi menulis. Akhirnya bisa jadi penulis. Film-film era sekarang juga banyak banget hlo yang diadaptasi dari novel-novel kece. Seperti Surga Yang Tak Dirindukan, Assalamualaikum Beijing, Love Sparks In Korea karya bunda Asma Nadia, Perahu Kertas, Filosofi Kopi karya Dee, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dsb. Atau kalau susah nembus penerbit mayor kamu bisa coba kirim naskah ke Penerbit Buku Perempuan, Stiletto misalnya. Yah, kalo kita ga nyoba siapa yang tahu? Meski mau menjadi penulis itu ga gampang. Ya, menjadi Penulis itu ga gampang. butuh kreatifitas, kerja keras, ga gampang putus asa, dan komitmen yang tinggi. Saya mulai belajar menulis sejak 2013, belum menghasilkan satu novel yang tuntas sampai akhir. Baru beberapa antologi dari lomba yang berhasil di bukukan. Dan sekarang pengen serius nulis di blog. Mulai dari belajar nge-review novel sampai mengikuti lomba blog.
        Mari pelan-pelan membiasakan sehari dengan membaca. Karena Indonesia cerdas, tergantung dari pemuda pemudi Indobesia itu sendiri. Dimulai dari diri kita sendiri. Kalo masih males ngeliat buku yang berlembar-lembar itu,mulai dari membaca artikel dengan tema yang kamu sukai atau yang sedang kamu cari aja dulu. Kalo udah sekian lama baca artikel coba baca cerpen ‘sejenis novel’ tapi langsung habis sekali baca, jadi kamu ga males kan?? Lama-kelamaan kamu pasti pengen deh ke toko buku, nyari novel buat waktu senggang. Kalo masih bingung mana penulis favorite kamu, kamu bisa baca novel yang sudah dijadikan film. Selain karena kamu udah pernah nonton filmnya, kamu bisa bedain tuh, geregetnya membaca novel ama nonton filmya aja.
        Nha kalau kamu udah suka membaca mulai deh tuh, pengen jadi penulis. Tenang di FB banyak banget grup kepenulisan. Kamu bisa pilih salah satunya buat belajar otodidak, seperti saya. Haha Cari ilmu gretongan,ups. Manfaat membaca banyak banget. Kita jadi tahu dunia luar. Dan yang terpenting pasti bermanfaat, asal buku yang kamu baca bermanfaat tentunya. 
        Semoga tulisan yang masih amburadul ini bisa sedikit bermanfaat untuk kita. Sangat menerima kritik dan saran dari pembaca. 
        Terimakasih

     [ Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba blog dari  Stiletto ]