Rabu, 28 November 2018

Published November 28, 2018 by with 0 comment

Pentingnya Bermedia Sosial




Are you addict on media sosial?

Trukgandeng, eh maksudku tergantung. 
Di era yang serba digital saat ini memang tak bisa dipungkiri bahwa media sosial bisa menjadi semacam kebutuhan. Tapi aku bukan pengguna yang rutin. Dulu, semasa sekolah mungkin aku bisa menghabiskan berjam-jam cuman buat stalking, buat status atau hal-hal unfaedah lainnya. Emang sekarang enggak? Ya, masih sih, kadang kala tapi keseringan. Haha.
Semakin ke sini, semakin tua dewasa, dan semakin tahu hal-hal apa saja yang bisa dimanfaatin di medsos, ngebuat aku semakin pilah pilih untuk apa aku bermedia sosial. Di umur yang segini (2* skiiip) medsos bukan cuman untuk numpang nyetatus kegalauan, kepedihan, kesengsaraan, kebahagiaan, bukan itu lagi prioritasnya. Medsos mulai ada faedahnya sedikit, apalagi untuk orang-orang yang ngimpi jadi penulis kek aku. Wkwk.
Semakin memanfaatkan medsos untuk menghasilkan sesuatu, mulai dari jualan online, nulis, searching sesuatu yang ngebuat blog ini makin kece, dan lain sebagainya.
Bermedia sosial semakin dewasa nyatanya juga semakin bijak. *Masaksih. Enggak cuman untuk stalking sana sini, ngabisin buat pasang setatus menyek-menyek, duh, sekarang bahkan mikir beribu kali buat nyetatus yang enggak-enggak. Yang, iya-iya aja udah. 😂
Media sosial mau nggak mau menjadi semakin kebutuhan di era yang serba digital saat ini. Entah sekadar untuk mengisi waktu senggang, stalking mantan tentang blogger dan tetek bengeknya , atau untuk memulai usaha, bisa jualan online,  dan masih banyak lainnya yang berfaedah.
Jadi kalo ditanya apa media sosial itu penting? Banget. Karena melalui media sosial juga aku ingin berkembang. Berkembang  seperti apa? Memanfaatkanya untuk sesuatu yang mungkin nanti bisa bermanfaat, menghasilkan sesuatu, bisa berupa karya, penghasilan, pengalaman atau masih banyak lainnya. Sisi positif dan negatif dari media sosial memang tidak bisa dihindari. Tapi itu pilihan. Kayak aku milih kamu. *Ea *iniapa Tuhan? 🙄
Kalau dibilang aku bisa manfaatin medsos untuk hal-hal yang positif saja, mana bisa? Ya, belum bisa juga. Kadang aku juga masih bisa menghabiskan berjam-jam untuk hal-hal yang unfaedah, kek stalking mantan, nyetatus, nyepam. Buka FB, ganti ke twitter, ganti lagi IG, ganti lagi ke whattaspp. Kadang aku juga nanya, apalah ini yang cari, buka tutup, buka tutup enggak jelas. Dan emang porsi kek gitu semakin kesini, semakin wajib dikurangi. Ya kalik, buka tutup kek gitu bisa dimanfaatin buat nulis, buat baca hal-hal yang lebih faedah. Jadi, porsi kegajelasan bermedia sosial juga makin dikurangi seiring bertumbuh dewasa.

Jadi untuk teman-teman sendiri, penting nggak sih media sosial? Penting yang seperti apa yang teman-teman mau?
Read More

Sabtu, 24 November 2018

Published November 24, 2018 by with 0 comment

Kenapa Gabung di BPN?

"Apa alasan kamu gabung di Blogger Perempuan Networking?"

‌Kenyataan jika aku belum menemukan teman dengan hobi yang sama adalah realitas. Kenyataan kalo negara kita darurat membaca aku rasa memang bukan isapan jempol semata. Semakin canggih era digital saat ini, sangat membantu aku mencari teman baru yang mempunyai passion dibidang yang sama.  

"Surround yourself with people who have dreams, desire, and ambition: they’ll help you push for and realize your own" -kutipan dari blog anditapr.com

Enggak salah, kalo kita belum ketemu dengan orang-orang yang sebenarnya ingin kita kenal. Enggak salah juga masih banyak orang yang melihat kesukaan ini sebagai hobi yang 'sok' atau hobi yang terlalu muluk-muluk, atau hobi yang terlalu intelek, atau lagi hobi yang masih minoritas di beberapa daerah. Yah, kenyataanya memang seperti itu. Menulis dan utamanya membaca masih dianggap sebagai hal yang hanya boleh dipunyai bagi mereka yang pintar, cerdas, dan mungkin bisa juga hanya untuk orang yang memang enggak punya kesibukan. Ada sebagian yang menilai demikian, demikian. Aku merasakannya sendiri. Tidak salah, itu tidak salah. Karena masing-masing orang punya cara pandang masing-masing. Nha, yang salah kalo kita maksain orang lain buat paham dan mengerti.
Realitanya aku belum mempunyai banyak teman di dunia nyata yang sepaham dan sehobi. Sedangkan aku mau dan ingin menyeriusi perihal ini, ngeblog. Otomatis dengan sendirinya aku mencari tahu. Melakukan blog walking ke sesama blogger, ngebuat aku banyak belajar, banyak kenalan dengan orang-orang baru, dengan orang-orang yang punya minat yang sama, orang-orang dengan energi positif yang aku rasakan.
Lalu tahu BPN darimana? Darimana lagi kalo bukan hasil dari blog walking. Banyak blogger yang sudah lebih dulu melalang buana di dunia perbloggeran. Dari sini aku mulai mengenal berbagai macam komunitas blogger. Dan itu bejibun, buanyak buanget. Salah satunya ya, BPN ini.
Awal tertarik? Sederhana. Aku jatuh cinta sama logo Blogger Perempuan Networking. XD
Perempuan banget dan feminim gitu,
"Wah, kalo aku pajang di blog makin ngebuat blog aku jadi kece kayak gini kali ya?" Wkwk.
Begitulah, alasan macam apa ini sebenarnya?😂
Seiring berjalannya waktu, mengikuti komunitas ini menjadi semacam kebutuhan. Karena melalui BPN ini, aku mengenal hal-hal baru perihal blogger, berkenalan dengan orang-orang yang mempunyai minat yang sama. Bertemu dengan seseorang yang mempunyai energi yang belum aku temukan sebelumnya, membuat kita juga makin semangat dan terpacu untuk mengikutinya. Tanpa kita sadari.
Awal mau gabung ke komunitas ini juga mikir seribu kali.
"Duh, ini komunitas besar. Dan pasti udah profesional semua jadi blogger."
Aku tuh minder tauk. Tapi mau sampai kapan ya kan? Padahal gabung ke komunitas seperti ini itu wajib, biar makin berkembang blognya. Benar saja, setelah gabung aku memang lebih suka jadi silent reader. Pernah beberapa kali ikut nimbrung juga ding, tapi lebih banyak jadi silent reader. Jadi silent reader saja menyenangkan, aku jadi tahu masalah apa saja yang sering dialami blogger dan gimana cara nyelesaiinnya, dan hal semacam ini membantu sekali untuk blogger pemula seperti diriku. Kusuka, kucinta, seperti aku mencintainya.*eh

Jadi, intinya, kenapa gabung di BPN? Ya, selain karena aku perempuan juga karena ini komunitas yang memang selama ini aku butuhkan, dan tentu, sebagai perempuan rasanya persamaan gender membuat aku sangat nyaman ikut komunitas ini. Meski sampai sekarang aku belum pernah ikutan acara offline yang diadakan BPN, di Klaten belum ada komunitasnya. Misal ngadain di Jogja atau Solo, aku mau dateng. Mbak shintaries semoga mau ngadain di dua daerah ini. 🤗
Read More

Jumat, 23 November 2018

Published November 23, 2018 by with 0 comment

Alasan dibalik nama blog

"Apa alasannya kamu menggunakan nama blog satu ini?"

Sebelum akhirnya nama ini terpilih, ada beberapa kandidat yang sempat ingin aku gunakan.
sasantidotcom.
Awalnya pengen banget gunain nama itu. Kenapa? Karena itu nama paling simple dan ejaannya juga gampil banget, jadi mudah diingat. Tapi sungguh sayang seribu sayang, nama itu sudah ada yang punya. Huhu.
arisantidotcom
Ini referensi kedua. Gabungan dari nama pertama dan kedua. Tapi aku kembali sedih karena harus menelan pil pahit kenyataan, nama ini sudah ada yang gunain juga. Huhu.
Well.. nyari nama blog emang harus dipikir mateng. Katanya sih begitu, dan aku juga setuju sih. Kenapa harus gitu? Katanya sebuah nama sebuah cerita.
Tips memilih nama blog yang tepat :

1. Gunakan Ejaan Nama Yang Mudah Diingat
arisantiwe.com, nggak terlalu sulit buat diingat ye kan. Cuman belakangnya aja harus meraba-raba, antara W atau We. 😂

2. Gunakan Nama Paling Sederhana
Jika mau ngambil dari nama sendiri, usahakan cari ejaan yang paling sederhana. Misal namanya tiga kata, coba diringkas jadi satu. Nama ini pun sama, ini gabungan dari nama lengkap yang aku ringkas. Kalau kamu mau tahu, nama ini pun terinspirasi dari blog inokari.com. (Kan, dia lagi yang jadi inspirasi. 😂) Kenapa? Karena blog satu ini namanya cukup unik dan gampil buat diingat. Usut punya usut, nama tersebut juga ringkasan dari si empunya blog hlo. Kusuka. Hehe.

3. Pilih nama dengan pengucapan sederhana
Selain ejaan, yang membuat blog gampang diingat adalah cara pengucapannya yang enggak terlalu rumit. Rumit ejaan dan pengucapannya, karena kalo untuk yang nggak biasa berkunjung, biasanya harus nge-paske ejaan. Kalo salah satu aja bisa nggak ke detected sama google. Pengunjung kadang juga jadi males mau nyari blog kita lagi.
Dari ketiga tips di atas, nama blog ini (menurut aku) memenuhi ketiga kriteria di atas. Nama dari ringkasan namaku sendiri, dengan ejaan yang enggak terlalu rumit dan insha Alloh gampil buat diingat. 

Kalo untuk kamu sendiri, ada alasan khusus nggak sih dari pemberian nama blog kamu? Share jawaban kamu kemari ya. 🤗
Read More

Rabu, 21 November 2018

Published November 21, 2018 by with 0 comment

Beberapa Niche Blog di sini!

"Tema apa sih yang suka kamu bahas di blog?"

Random. Yah, pasti aku jawab demikian kalo ditanya perihal tema blog atau niche blog. Emang kenyataanya masih kayak gitu gimana dong. Masih nggak bisa dibatasi blog ini untuk satu tema aja. Jadi, semua tulisan di blog ini juga masih campur aduk kek gado-gado. Semua tulisan di sini murni karena memang aku ingin tulis. 

"Hlo belum ada sponsored post-nya?" 

Belum saudara. Jadi, gimana, mau nyeponsori enggak?XD Yah, aku sih bersedia saja kalau ada yang mau nyeponsori. Kali aja ye kan, ada yang mau. Kalik. Hehe.
Kalau untuk lebih spesifik lagi, blog ini bisa la dimasukin ke dalam blog lifestyle.
Wuih.. kedengaran cool ye kan. Itu kedengarannya saja. Jangan bayangin blog ini dengan segala review makanan di resto-resto mahal, review janjalan keliling Indonesia, atau cerita bahagia habis arisan ala-ala geng squad, jangan. Atau bayangin review produk dari brand yang lagi booming. Duh, ora koyo ngunu kui.

Blog ini semacam rumah sederhana bagi si empunya. Rumah dengan segala tulisan sederhana tentang berbagai macam hal yang memang ia ingin tulis. Gaya hidup tidak harus selalu terlihat 'wah' bukan? Gaya hidup di sini lebih merakyat. Ke hal apa saja yang memang aku sukai.
Untuk lebih spesifiknya beberapa tema di bawah ini yang sering nampang di blog ini :

1. Review
Mulai dari review buku, review tempat-tempat yang pernah dikunjungi, dan masih banyak lagi lainnya. Nge-review semacam ini bisa sangat membantu sekali untuk jadi bahan tulisan. Apalagi aku yang emang hobi baca, jadi makin mudah nyari bahan buat blog. Sebenernya untuk blog buku sendiri sudah ada. Cuman belum terawat sebagaimana mestinya. Masih riewuh ey, ngurus anak satu ini aja masih suka kadang-kadang, gimana mau ngurus yang lain? #halasan.
Semoga blog buku bisa segera terealisasi. Sebenarnya memang sudah ada sih, di www.bukunebukuku.blogspot.com. Tinggal ngerawat dan mempercantik aja, sama konsisten ngisi ding. 😅

2. Curhat Receh
Siapa nih yang masih suka curhat receh di blog? Toss.. kita sama. Meski semakin kesini, aku juga memilah mana yang pantas untuk dishare, mana yang aku tahan untuk jadi draft doang. Hehe.
Curhat receh di sini bisa berbagai macam bentuknya. Intinya kita share pengalaman kita akan suatu hal, semoga aja bisa diambil manfaatnya orang lain.

3. Traveling
Meski sampe sekarang belum melakukan perjalanan ke yang jauh jauh amat, nggak papa kan yak ngimpi dulu. Apalagi niche blog tema ini emang lagi buanyak banget digandrungi semua orang. Menuliskan tentang perjalanan ke sebuah tempat emang paling nyenengin, selain bisa kita save sampai nanti, tulisan kita juga bisa menjadi kenangan dengan bentuk lain. Dan biasanya lebih detail juga kalau sudah dalam bentuk tulisan.

4. Food Blogger
Wuih, siapa yang suka kulineran? Aku juga suka kok, tapi lihat-lihat isi dompet juga. Enggak harus ke resto-resto mahal, jajanan di pinggir jalan yang oke juga bisa jadi referensi. Paling enak emang tema ini nih, apalagi buat yang suka masak atau kulineran. Nha, yang ini juga belum kesampaian sampe sekarang tapi pengen nantinya bisa merambah ke sini juga. Hehe. Sapa tahu aja ye kan. Sudah, semuanya itu serba didoakan saja pokoknya. Tapi jangan lupa sambil usaha juga ya gaes. Ikhtiar dan doa, siapa tahu nemu emas satu kantong plastik di jalan, terus nikah. *Hlo, ini apa lagi? 😂

Itulah beberapa tema yang aku sukai untuk jadi bahan blog.
Kalau teman-teman sendiri lebih suka niche apa? Atau masih sama kayak aku yang gado-gado? Apapun yang penting lakukan dengan cinta ya. Ciee... *Uhuk
Read More

Selasa, 20 November 2018

Published November 20, 2018 by with 11 comments

5 Alasan Kenapa Menulis Blog


Kenapa menulis blog?
Menulis menjadi bagian penting dalam hidup saya. Orang introvert seperti saya biasanya lebih suka menyimpan sesuatu rapat-rapat. Padahal kita tahu yang namanya emosi harus dikeluarkan. Jika tidak, mungkin  bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Tidak harus dengan bercerita melalui suara bukan? Menulis menjadi alternatif untuk orang-orang seperti saya.
Awal mulai menulis dimulai dari menulis buku harian. Hingga usia saya yang mau menginjak 2* sekian (sensor) 😂, entah sudah berapa buku tulis yang saya habiskan untuk menulis buku harian. Selain menulis, hobi saya adalah membaca. Membaca apa saja yang menarik minat saya. Mulai dari buku-buku, artikel, dan yang sedang saya tekuni saat ini, blog. Yah, membaca berbagai macam hal nyatanya membuat saya merasa kerdil akan ilmu dan semakin haus untuk mencari tahu.
Lalu apa hubungannya sama blog? Baiklah, beberapa alasan dibawah ini saya ngeblog.

1. Hobi Menulis
Hobi menulis sejak duduk di bangku SD, sejauh yang saya ingat. Meski waktu itu hanya menulis buku harian. Semakin beranjak dewasa, hobi menulis tidak turun malah semakin menggebu. Menulis untuk saya sendiri seperti sebuah terapi. Terapi untuk tetap waras menjalani hidup yang tidak pernah mulus. Dalam ilmu psikologi menulis memang bisa menjadi semacam terapi  menyembuhkan jiwa yang sedang 'sakit'. Untuk makhluk-makhluk introvert, saya yakin pasti bisa merasakan hal demikian.

2. Pengen Hobi Jadi Profesi
Kalian pernah nggak punya impian kerja dari hobi? Kalau saya sendiri, ini semacam impian. Mengusahakan menulis bisa menjadi profesi? Kenapa enggak ye kan. Sebenarnya awal belajar menulis profesional ketika saya punya impian bisa menerbitkan buku saya sendiri. Ini tentu berawal saat saya suka membaca berbagai macam novel, alhasil saya jadi menekuni dunia literasi lebih dalam lagi. Tidak hanya menulis buku harian, menulis mulai merambah ke sebuah karya yang bisa dinikmati semua orang. Menulis cerpen, opini, artikel dan novel (meski untuk novel belum ada yang terealisasi. ) Membaca dan menulis adalah dua hal yang berkesinambungan. Ketika kita banyak membaca, maka semakin mudah kita menulis. Atau sebaliknya, semakin kita sedikit membaca maka kemampuan menulis juga bisa menurun. Saya pun merasakannya sendiri.
Setelah gagal mengikuti berbagai macam lomba kepenulisan seperti lomba buat novel, cerpen, puisi dan lain sebagainya membuat saya ingin menyerah saja. Huhu. Enggak mudah memang bisa tembus ke sebuah media. Lalu saya mulai meninggalkan tulisan fiksi saya di draft. Saya mencari sesuatu yang menurut saya lebih mudah dan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah melalui menulis. Dan akhirnya ketemu, ngeblog. Dan nyatanya ngeblog pun tak semudah membalikkan telapak tangan.

3. Menghasilkan Pemasukan
Awal mula kenalan sama blog yaitu dari blog mbak inokari. Aku tahu mbak inokari juga dari sosmed hlo, belum pernah ketemu dan udah ngefans. Gegara dia dulu kuters sama kayak saya. Pemburu hadiah di sosmed. 😅 Kenalan formal sama mbak satu ini emang nggak pernah, ujug-ujug aku komen, ujug-ujug SKSD. Dan tetiba mbak inokari buat blog, wuih ku jadi suka berkunjung. Coba lihat blognya disini.
 Nha, mulai dari sini aku juga makin tertarik karena ternyata banyak banget lomba yang bisa diikuti. Yah, namanya juga kuters ye kan, ada kompetisi dikit langsung tertarik, apalagi ngeliat hadiah yang terpampang. 😅 Persyaratan pertama ikut lomba blog tentunya punya blog sendiri. Alhasil, aku pun coba buat. Dan menekuni hingga kini. Sampai memberanikan diri beli domain dengan nama sendiri, gilak sih. Ya gimana enggak, tulisanku masih remeh temeh kayak remukan gorengan udah berani beli domain. 😅
Cerita sedikit nih, kenapa memberanikan diri beli domain, padahal tulisan juga masih acak adul. Alasannya adalah adsense yang saya ajukan ke google diterima. Yay, alhamdulillah. Jadi makin semangat ngeblog ye kan, kali aja beneran bisa jadi blogger dan dapet duit dari ini. Amiin. Iya, aminin aja, semoga beneran. Dan semoga doa baik kembali ke kamu juga yang sudah mengamini. 😍

4. Ngeblog Untuk Berbagi
Selain curhat dan ikutan lomba, ternyata manfaat blog masih banyak. Selain curhat untuk mengeluarkan uneg-uneg, ikutan giveaway, ikutan lomba biar dapet hadiah, ngeblog menjadi cara saya untuk berbagi pengalaman dan informasi. Meski untuk berbagi informasi sendiri, saya rasa blog ini belum sejauh itu. Berbagi pengalaman dengan pembaca. Siapa tahu apa-apa yang dituliskan disini bisa membuat orang lain sedikit mendapat pencerahan atau bahagia, semoga saja ye kan. Siapa tahu ada orang yang sedang mengalami hal yang sama dari cerita yang kita bagikan. Siapa tahu membantu seseorang untuk merasakan tidak hidup seorang diri. Efek dari menulis memang bisa sedahsyat itu kan? Terbukti dari makin banyaknya quote-quote yang bertebaran di dunia maya, yang kadang bisa menjadi pemicu seseorang untuk semangat, untuk bahagia, untuk tersenyum dan energi positif lainnya. Siapa tahu. 

5. Sebagai Wadah Rekam Jejak Abadi
Sering nulis curhatan receh di blog? Enggak papa, itu pertanda kita manusia biasa yang butuh ngeluarin uneg-uneg. Curhatan receh nyatanya bisa mendatangkan bahagia nantinya hlo. Kok bisa? Tanpa sadar ketika kita menulis sesuatu disini, itu akan menjadi keabadian. Menjadi semacam draft yang tidak bisa hilang. Dan  mungkin tiga sampai empat tahun lagi dengan mudah bisa kita intip lagi, apa aja sih yang pernah kita tulis disini. Misal pernah pergi ke suatu tempat, terus kita tuangkan, secara tidak langsung kita sudah memindahkan kenangan dengan cara yang lebih mendetail. 

"Oh, iya ya, dulu aku pernah kesana."
"Duh, kok aku pernah se-alay ini sih?"

Kan, mendadak jadi malu sendiri dengan ke-alayan pada jamannya. 😂 Ini menjadi bahagia yang sederhana bukan?
Menulis adalah keabadian. Termasuk mengabadikan ke-norak-an, ke-alay-an dan kegajelasan yang hqq. 🤣
Meski begitu, menulis di blog menjadi tempat rekam jejak yang menyenangkan.

Kalo untuk teman-teman sendiri, apa alasan kalian ngeblog? Boleh share jawaban di kolom komentar ya. :)
Read More

Rabu, 31 Oktober 2018

Published Oktober 31, 2018 by with 1 comment

(semacam) cerpen

"Aku ingin menikah lagi Rin." kalimatnya pelan. Tidak seperti biasanya.
"Kau mau menikah dengan siapa mas?" tanya Ririn dengan mimik wajah biasa saja. Ririn seolah tahu hal ini akan terjadi. Wajar, menurutnya.
"Maafkan aku Rin. Tapi ibu ingin aku punya anak. Dan ..."
"Dan itu tidak bisa kamu dapatkan jika masih hidup denganku kan?" Ririn menyela. Dia tahu apa yang menjadi pertimbangan suami dan mertuanya.
"Menikahlah mas. Menikah saja. Aku tidak akan menghalanginya. Jika itu bisa membuat ibu dan kamu bahagia, aku akan turut bahagia."
Ririn menambahkan. Ririn sadar diri, dia bukan wanita sempurna. Ririn tidak sama dengan perempuan pada umumnya. Setelah empat tahun pernikahan, Ririn dan Aldi tidak juga dikaruniai seorang anak. Setelah Ririn didiagnosa mandul, Ririn seakan menyerahkan semua hidupnya pada Tuhan. Dia tahu hal semacam ini akan terjadi, hanya menunggu waktu. Ririn baru menyadari bahwa cinta tak cukup untuk membina keluarga ini. Lelakinya, Aldi Permana sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Dan itu adalah hal yang justru tak bisa ia dapatkan dari Ririn.
Setelah diagnosa dokter, hati Ririn cukup hancur. Bahkan sangat hancur. Selama hampir dua tahun ia menjalani berbagai macam terapi. Mulai dari cara tradisional hingga modern pernah Ririn lakukan, tapi apa daya, dia seorang manusia biasa. Tuhan belum mengijinkan. Tetapi suaminya kali ini mungkin sudah menyerah. Dan Ririn tahu akan hal ini. Dia sudah menyiapkan segala kemungkinan. Hatinya sudah lebih dulu hancur ketimbang mendengar pengakuan suaminya ini, jadi baginya ini bukan lagi sesuatu yang menyakiti. Memang sakit, tidak sesakit apa yang pernah Ririn terima sebelumnya.
Untung saja, Ririn masih punya Tuhan dalam kesehariannya, jika tidak, mungkin kewarasannya akan hilang. Ririn tidak membenci suaminya, ia menganggap bahwa ini atas seizin Tuhan. Seijin Alloh. Jadi bukan sepenuhnya kesalahan suaminya, pikirnya.
"Kita bisa tinggal bertiga disini. Aku akan menganggap ia sebagai adikku." meski kalimat Ririn tercekat, ia berusaha menyampaikan itu sepenuh hati.
"Maafkan aku Rin, tapi dia tidak terima. Dia mau menikah kalau aku sudah bercerai denganmu."
Ririn menghentikan mesin jahit di hadapannya.
"Lalu maksud mas?"
"Maafkan aku Rin."
Lelaki yang sedang menatapnya lekat mencoba mendekat. Ririn beranjak dari kursi jahitnya. Entah, bagaimana lagi dia harus berbuat. Tidak adakah cara lain selain berpisah? Tidakkah ingat bagaimana janji mereka berdua dulu?
"Tidak akan saling pergi, dalam keadaan apapun."kalimat yang mereka ucapkan dengan secangkir kopi yang mereka seduh, berdua. 
Mungkin seperti itulah yang biasa disebut banyak orang sebagai janji manis. Janji yang amat manis tapi nyatanya tak semanis itu. Mungkin juga manusia selalu lupa. Lupa dengan bahagia yang pernah mereka ukir, sebelum kepedihan seperti ini datang. Ririn menyesal mengucap janji di saat bahagianya. Mudah saja orang berucap janji dikala bahagia, yang sulit adalah berjanji di saat kepedihan datang. 
Ririn mengunci pintu kamar. Rapat. Aldi menunggu di luar. Aldi tidak tahu lagi harus bagaimana, dia adalah anak pertama. Lelaki pertama dan satu-satunya. Memiliki keturunan adalah impiannya dan tentu, ibunya. 
Aldi mengetuk pintu. 
"Rin, maafkan aku. Ini ibu yang meminta."
"Lalu tidak bisakah kau menolak? Lalu apa tidak ada cara lain? Aku bersedia jika memang kau harus memiliki wanita kedua, apa itu tidak cukup?" 
Ririn menangis, memeluk erat tubuhnya, sendiri. Dari balik pintu Aldi mendengar, jelas, tangisan istrinya. 
"Apa orang yang biasa kamu ceritakan itu adalah kamu mas? Cerita kamu tentang jika ada seorang lelaki yang sudah beristri memiliki perasaan dengan perempuan lain? Iya?"
Ririn keluar dari kamar. Menatap suaminya lekat. Aldi diam. Itu adalah jawaban. Kali ini, Ririn sudah cukup jelas. Jelas mengetahui siapa suaminya. Kepercayaan yang ia berikan seketika hancur. Lebur. Seiring kediaman suaminya.
Telah habis air mata Ririn. Penerimaan akan kenyataan yang rasanya begitu pahit dirasa kala ia dinyatakan tidak bisa memiliki seorang anak. Dan ia harus menempa getir dengan semua ini? 
"Tidak pernah kau mencintaiku mas. Tidak pernah. Sekarang, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Malam ini, aku akan pergi dari rumah ini."
"Rin,,"Aldi memegang tangan sosok perempuan yang sedang menjatuhkan air matanya untuk keegoisannya. 
"Maafkan aku Rin."
Pada akhirnya cinta saja tidak cukup untuk menerima beberapa hal dalam hidup. Pada akhirnya cinta hanya akan menjadi pembahasan menyenangkan bagi remaja, tapi tidak bagi manusia-manusia dewasa. Cinta dan kebutuhan seolah menjadi hal yang berbeda bagi orang-orang dewasa.

Note: based on true story
Read More

Rabu, 03 Oktober 2018

Published Oktober 03, 2018 by with 6 comments

Review Garis Waktu- Fiersa Besari


Penulis: Fiersa Besari
Penyunting: Juliagar R.N
Penyunting akhir: Agus Wahadyo
Foto: Fiersa Besari
Penata letak: Didit Sasono
Desain cover: Budi Setiawan
Penerbit: Mediakita
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  iv + 212 halaman
ISBN: 978-979-794-525-1

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.
Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
***
Akhir-akhir ini saya selalu suka novel terbitan Media Kita. Banyak novel dengan cover manis, sederhana dan memikat (ini menurut saya). Media Kita melahirkan penulis muda dengan karakter baru, seperti Boy Candra, Tia Setiawati, Abdul Halim dan masih banyak lainnya, salah satunya Fiersa Besari. Saya juga sedang menulis prosa (ala-ala), kemudian menjadikan buku terbitan Media Kita sebagai 'pancingan' untuk mulai menulis (lagi).
Garis waktu merupakan buku kedua Fiersa Besari yang saya baca setelah Konspirasi Alam Semesta. Garis waktu merupakan rangkuman beberapa tulisan Fiersa Besari pada kurun waktu 2012 hingga 2016. Siapa yang tidak kenal lelaki satu ini? Saya yakin bagi penggiat buku-buku, nama Fiersa tidak lagi asing di telinga. Lelaki yang mempunyai beberapa profesi, selain penulis ia juga merupakan musisi, penangkap gerak dan pegiat alam. Kalau kamu mengenalnya sebagai apa? Saya mengenal lelaki ini melalui buku pertamanya Konspirasi Alam Semesta. Review buku pertamanya bisa kamu baca disini.
Dari segi cover, buku ini terlihat sederhana dan bersih. Cover depan juga menyiratkan isi dari buku tersebut. Entah kenapa, menurut saya, hampir semua cover terbitan Media Kita ini selalu menarik. Seperti yang tulis di atas, tampilannya sederhana tapi manis dan sarat makna. 
Garis Waktu seperti sebuah kumpulan surat-surat Fiersa yang tersimpan rapi dalam bentuk buku. Benang merah dari buku ini adalah saat tokoh 'aku' dan 'kamu' memulai kisah dari masa perkenalan, kasmaran, patah hati, hingga pengikhlasan karena akhirnya tidak bisa bersama, yang disusun berdasarkan kronologis bulan dan tahun.
"Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu. Kadang ia datang setelah kau telah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu."
Novel yang menggunakan satu alur saja yaitu alur maju, membuat novel ini kurang greget. Ya wajar saja, dalam novel ini bukan buku yang mengisahkan beberapa kejadian. Masuk dalam kategori prosa yang tidak terlalu banyak konflik. Jangan bayangkan novel yang banyak percakapan atau narasi keadaan dan sebuah tempat, tidak. Novel disajikan dengan narasi dan diksi yang kuat, meski minim dialog. Pembaca seolah diajak untuk merenung dan membangun sendiri adegan demi adegan berdasarkan tokoh 'aku'. Meski fokus pada kisah dua orang anak manusia, novel ini setidaknya membuat kita mengerti bahwa hidup tidak akan seperti apa yang kita inginkan. Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan berbagai orang, yang akan memberikan kita titipan kisah. Ada yang merajut bahagia, canda, tawa dan kesedihan serta mungkin akan mengajarkan kita arti kehilangan. *duh, dalem amat*.
Dalam buku ini, kita akan belajar arti kenapa ada orang-orang yang diberikan Tuhan hanya sekadar mampir, bukan menetap. Ada orang-orang yang merajut bahagia dalam beberapa kurun waktu lalu berakhir dengan perpisahan. Ada orang-orang yang rasanya sangat berarti tapi Tuhan menggariskan kita untuk tidak bersama sepanjang usia.*wushh.
Rekomended buat kamu yang sedang mengalami patah tulang *eh, patah hati maksud saya. Hehe. Kita akan menemukan jawaban kenapa kita harus mengalami kehilangan. Selami lebih dalam novel ini dengan tenang. Jangan gaduh, apalagi sampai mecahin gelas. XD
Memang buku-buku seperti ini terlihat begitu melankolis, bikin baper kalo kata orang. Ekek. Eh, tapi jangan salah, buku ini emang baper, tapi bapernya membangun kok. Kita secara nggak langsung punya mindset yang berbeda tentang patah hati. *ciee, curhat. uhuuk.
Secara keseluruhan buku ini rapi dengan narasi dan diksi yang sarat makna.
 Meski masih seputar jatuh cinta dan patah hati, novel ini ada sisi humanis dan sosial. Seperti cuplikan kalimat dibawah ini,
"Taruh dulu gadget-mu, lalu tatap mataku. Lupakan sejenak mengenai jejaring sosial di antara kau dan aku. Sadarkah bahwa itu semua semu?" hal-79
“Darimu aku belajar menjadi lebih baik.
Denganmu aku belajar untuk melakukan yang terbaik.
Tanpamu aku belajar untuk Memperbaiki. ”
(hal. 167) 
"Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam Semesta bekerja seperti itu." (Hlm. 107)


Read More