Selasa, 16 April 2019

Published April 16, 2019 by with 0 comment

Remuk Redam

pexels.com

Kau torehkan pecahan-pecahan kaca kembali
Menjadi serpihan-serpihan menelisik

Melukai,
Sekali lagi, satu kali lagi dan lagi

Remuk redam
Kau benamkan ke dalam palung terdalam
Kembali aku letakkan ia pada malam

Biar ia terbelenggu
Biar ia terkurung

Pergilah bersama temaram
Dalam gelap dan remang

Sungguh, aku hanya ingin meniadakan
Segalanya
Biar ia terenggut sepi
Biar ia tertelan sunyi

Sungguh, raga ini lelah
Bersama sisa-sisa asa yang tlah tumpah
Ia tak lagi utuh
Ia telah luruh
Seutuhnya dan seluruhnya
April 2019.
san.



Read More

Senin, 08 April 2019

Published April 08, 2019 by with 0 comment

Entah

Ketika melihat cahaya keemasannya, entah kenapa ada perasaan lega, sesaat. Meski tak begitu lama, perasaan itu sungguh damai dan menenangkan. Senja seolah menjadi candu sekaligus pereda nyeri di ulu hati. Senja yang tak pernah dekat namun begitu melekat. Dalam rasa dan ingatan.

Rindu kembali luruh, mempertanyakan tentang mengapa dan apa? Namun yang kau temukan selalu saja entah. Rasa ini seperti kalimat retorik, kau bisa menanyakannya tapi ia tak butuh jawaban.

Ketika dada tak lagi bergemuruh, ia hanya mulai luruh dengan pasrah. Tak ada ambisi atau pun harap berlebih atas semuanya. Ia hanya tahu, bahwa ia ada dengan doa dan kepasrahan.

Ada semacam penghalang untuk ia kembali berharap dan meyakinkan diri. Ia tak lagi sepercaya itu. Ketika ada yang memilih meninggalkan, ia menyadari satu hal bahwa ada yang mungkin, tidak akan pernah cukup baginya menetap.

Ia hanya menyadari satu hal, tentang perasaannya yang utuh dan harapannya pada Tuhan. Meski ia akan berusaha untuk kembali percaya, namun ada setitik pasrah yang tak lagi membuatnya sepercaya itu pada makhluk-Nya.

Ia hanya akan kembali berharap pada Tuhan dan semesta. Entah seperti apa akhirnya nanti.

April 2019.
san.
Read More

Minggu, 07 April 2019

Published April 07, 2019 by with 0 comment

Sesuatu tentang Bapak #2

Pada pagi yang berpendar, aku duduk di teras depan rumah. Mengamati embun-embun sisa hujan semalam. Dinginnya masih terasa, mentari masih enggan menampakkan cahaya.

Tetiba garis waktu terhenti, pada sekadar ingatan tentang kelebat bayang seorang bapak di hadapan. Bayang ketika ia pulang dari perjalanannya dengan membawa sekotak rindu untuk kami. Beliau membawa oleh-oleh sayang yang tertahan selama beberapa purnama. 
Ketidakpulangannya kali ini, membawa sekantong dekap yang kembali menghangat setelah perjalanan panjang. Malam-malam kembali ramai setelah kepulangan bapak. Ia bercerita banyak hal, tentang apa saja yang ia jumpai di perjalanannya mencari nafkah.

"Anak wedok pak e uis gedhe."
Begitu bapak berujar. Beliau memang tak tahu bagaimana anak perempuannya ini tumbuh, setidaknya melihat setiap hari. Bapak pergi mengadu nasib di negeri seberang. Belum ada sepeda motor, masih menggunakan ontel sebagai kendaraan.
Aku masih ingat, betapa ia suka sekali membawa gerobak siomay kesayangannya, seolah di gerobak itu ada harap besar untuk kehidupannya nanti.
Malam kembali lengang. Setelah beberapa hari tinggal, ia akan kembali mengayuh sepeda tua dan kembali mengadu nasib di kota-kota besar.
Setiap detail kenang, selalu membawa mu kembali pada ingatan-ingatan tentangnya. Seseorang yang mencintai kami dengan segenap raga dan jiwanya.

April 2019
san.


Read More
Published April 07, 2019 by with 0 comment

Kepada Tuhan dan Semesta


Bibir ini sumbing
Ingin berkata namun terbekam hening
Mata ini buta
Ingin meniadakan namun kau sungguh ada
Telinga ini tuli
Ingin mengabaikan namun suara itu selalu berbisik

Bibir ini kelu untuk kembali beradu
Jiwa ini pasrah untuk kembali menyerah
Raga ini luruh untuk tak lagi bergemuruh

Kepada tuhan dan semesta
Kami kembalikan seutuhnya
 Tentang apa yg harus kami tempa dan terima

07 April 2019
san.
Read More

Kamis, 04 April 2019

Published April 04, 2019 by with 0 comment

Sebenarnya siapa yang bisa dibilang Ikhlas?


Hargai orang lain, kalau mau dihargai.
Berbuat baik, supaya orang lain berbuat baik juga.

Ibarat pepatah, air susu di balas dengan air susu. Air tuba di balas air tuba.

Kadang saya ketawa mendengar pernyataan di atas. Kenapa? Ya, karena mereka mempunyai harapan untuk di perlakukan sama, seperti sebagaimana mereka memperlakukan orang.

Apa ada yang salah? Ini bukan tentang benar dan salah, ini tentang mana yang lebih baik.
Kita selalu di ajarkan dengan pepatah,

Air susu di balas, air tuba.

Artinya, kita berbuat baik pada orang lain, belum tentu orang lain juga akan membalas baik. Kita tahu kan bahwa itu sebenarnya yang baik? Kita hanya perlu berbuat baik, terserah mereka akan membalas baik atau tidak, itu bukan urusan kita. Karena yang menjadi urusan kita, kita hanya butuh baik, sekalipun akan mendapat balasan tak baik, itu bukan urusan kita. Itu urusan dia dengan Tuhannya. Dengan pahala dan dosanya.

Jadi, setiap ada yang bilang, "Kalau mau di hargai, ya hargai dulu orang lain."
Saya tidak sependapat, karena kalimat di atas membutuhkan balasan atas apa yang kita lakukan pada orang lain. Padahal kita tahu, kamu hanya perlu baik dan biarkan Tuhan yang membalas. Perkara dia mau balik membalas baik atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhan.

Kita tahu, ikhlas itu seperti surat al-ikhlas, tidak ada kata ikhlas di dalamnya.

Jadi buat apa menghargai dengan tujuan ingin di hargai? Bukankah keikhlasan tidak membutuhkan balasan?
Read More
Published April 04, 2019 by with 0 comment

Katanya,


Perihal bapak yang tak lagi ada
Ada adalah ketiadaan yang ada
Ketiadaan adalah ada yang tiada

Ia adalah mentari namun juga hujan
Ia adalah kebahagiaan juga pesakitan
Ia adalah senyum dan tangis
Ia adalah ingatan dan sesal

Tubuh tegapnya masih terasa
Tatkala ia memeluk dan mencium
Senyumnya kian tumbang
Seiring hidup yang menghimpit

Lakunya kian pelan
Tatkala rindu terus melaju
Tatapannya kian meredup
Tatkala ada yang menghilang

Gadis kecilnya tak lagi ada
Katanya, dia bukan lagi putri kecilku
Katanya, dia bukan lagi si penurut
Katanya, dia mulai mengenal kecewa
Katanya, dia mulai mengenal pedih
Katanya, luka-luka yang dibuat kehidupan

Katanya,
Dia kehilangan bapak

Maret 2019, Klaten



Read More
Published April 04, 2019 by with 0 comment

Titip Rindu untuk Bapak


Aku bertanya pada Bapak tentang kesepian yang ia simpan

"Setelah kelahiran mu, tidak ada lagi sepi dalam hidup bapak." tuturnya perlahan.

Binar matanya sungguh elok
Tawa dan senyumnya begitu tulus
Peluk dan dekap hangatnya selalu menenangkan
Begitu raga itu berirama

Cinta yang teramat sangat, membuat kami terikat
Kasihnya yang begitu mendalam, membuat kami merindu
Nyanyian tatkala pagi dan siang, masih tergiang
Jelas dan nyata

Aku suka sekali di gendong pundak
Dan
Adik lelaki suka sekali bersepeda dengan bapak

"Duduk di depan ya, bapak di belakang." tuturnya sembari mengayuh sepeda.

Kami yang selalu merindu
Kami yang selalu mengingat
Dan
Kami yang tak akan pernah lupa merapal doa-doa, semoga bapak bahagia dan sehat disana
Beribu maaf belum sempat terucap, semoga kelak kau berkenan memberinya

Dari kami,
Keluarga

Semoga bisa kembali berkumpul, kelak dan selamanya.
Amiin

April 2019, enam puluh dua hari kepergian bapak.
san.
Read More